Kita berada tepat di Era Milenial. Sebuah era di mana media sosial menjadi ujung tombak komunikasi umat manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa, media sosial sangat mempermudah kehidupan manusia, terutama dalam memperoleh berbagai informasi.
Sejak menggengam ponsel pintar, konsumsi seseorang atas media sosial kian meninggi. Begitupun referensi berbagai sumber bacaan memperluas khazanah keilmuan.
Saat ini, media massa seperti tabloid dan koran tidak lagi menjadi penguasa tunggal penyedia informasi teraktual. Kemunculan media sosial seakan mengurangi ketergantungan kita pada media massa tradisional yang dianggap sudah usang dan mendekati akhir.
Kedigdayaan media sosial sendiri dipengaruhi oleh kemunculan Generasi Z. tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar konsumen media sosial adalah mereka yang disebut generasi Z.
Generasi Z inilah yang menggelar karpet merah atas kedatangan media sosial sebagai referensi moderen dan menggusur media tradisional.
Oleh karena itu, kita harus mengenal Generasi Z.
Siapa mereka? Apakah kita termasuk generasi ini? Oleh sebagian orang menyebut Generasi Z adalah generasi yang lahir setelah kehadiran internet. Namun, ada beberapa perbedaan patokan rentang tahun antara satu negara dan negara lain soal Generasi Z ini.
Badan statistik Kanada, misalnya, mereka mendefinisikan Generasi Z sebagai generasi yang lahir antara 1993 sampai 2011.
Sementara Australia melalui badan riset McCrindle Research Centre menyebut Generasi Z adalah mereka yang lahir antara 1995 sampai 2009. Bagaimana Indonesia mendefinisikan generasi Z?
Melihat kehadiran internet secara komersial di sini pada 1994, maka bisa dikatakan Generasi Z adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an.
Berdasarkan sensus penduduk BPS tahun 2010, populasi Generasi Z di Indonesia mencapai 28,8 persen.
Beralih ke data seluruh dunia, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, porsi Generasi Z di dunia mencapai 34,05 persen, dan diprediksi akan mencapai 40 persen pada 2050.
Menghitung banyaknya jumlah Generasi Z dari tahun ke tahun, maka bisa diprediksi bahwa media sosial akan semakin diandalkan beberapa tahun kedepan. Hal ini juga berarti kematian bagi media tradisional seperti dikatakan di awal.
Hal ini tentu kabar baik bagi pengagum media sosial. Betapa tidak, kemajuan media tak bisa disangkal akan mempermudah dalam memperoleh informasi hanya dengan sekali klik dengan ujung jari.
Di sisi lain, perkembangan media sosial yang tak bisa dicegah akan semakin mendekati akhir era bagi media konvensional.
Media sosial yang seluruhnya bergantung pada perangkat internet mendorong Generasi Z berpaling dari media cetak. Internet dengan media sosialnyan telah menyediakan berbagai kemudahan dan hal-hal baru yang sangat menggiurkan.
Sehingga perekembangannya semakin cepat seiring banyaknya Generasi Z. Maka untuk menjaga keberlangsungan perusahaannya, pemilik media cetak harus beradaptasi dengan era milenial ini.
Di kota-kota besar dunia, perusahaan media cetak mengalami penurunan sirkulasi seiring penetrasi yang meningkat sangat cepat.
Berdasarkan data Serikat Perusahaan Pers yang dulu bernama Serikat Penerbit Suratkabar, pertumbuhan oplah Koran melambat sejak 20111. Pada tahun 2011, pertumbuhan oplah harian hanya 5.85 persen. Pada 2012, pertumbuhannya semakin melambat hanya berkisar 2.69 persen.
Tahun berikutnya, perlambatan menjadi 0,98 persen. Pada 2014, pertumbuhannya yang tak sampai satu persen itu tergerus lagi menjadi 0,55 persen. Barulah pada 2015, ia sama sekali stagnan dan malah merosot.
Atas data inilah kemudian beberapa pengusaha suratkabar di Indonesia menjual perusahaan mereka kepada konglomerat media digital. Suara Pembaruan dijual ke Lippo Group pada 2006.
Perusahaan media cetak Suara Pembaruan ini menjadi salah satu contoh betapa media konvensional semakin tergerus zaman dan ditinggal penggemarnya.
Ini juga berarti sudah sangat dekat waktunya dunia didominasi oleh Generasi Z yang akan menjadikan media sosial sebagai media penguasa tunggal di masa depan.