Aceh provinsi termiskin?
Sebagai putra aceh tulen asli original, jujur saya sedikit geram dengan berita ini. Apalagi media2 mainstrem menggoreng ini seperti mie aceh yang laris. Belum lagi media abal2 yang cuma mencari recehan adsense membuat suasana semakin keruh.
Pun di aceh sendiri banyak spanduk selamat kepada pemerintah atas prestasi provinsi termiskin, ini benar2 ucapan selamat atau cuma sarkas saya tidak tau.
Tapi apakah benar aceh provinsi termiskin di indonesia?
saya pribadi bukan orang y terlalu percaya survey. Dan definisi miskin ini adalah hasil dari survey bapak2 y kerja di bps. Tentunya dengan indikator2 ekonomi yang ribet. Banyak survey melesat apalagi saat dekat2 pemilu survey cuma barang barang dagangan.
Menurut teman saya y ahli ekonomi, lulusan kampus beken di ibukota. Sederhananya cara bps melakukan survey tingkat kemiskinan itu adalah
- Penduduk dengan pengeluaran perkapita di bawah rata.
- Penduduk yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok makanan dan minuman yang setara dengan 2100 kalori yang di hitung dengan jumlah uang rupiah. Ya mungkin kalau di rupiahkan 20ribu lah, 3 kali makan nasi prang di aceh.
Ini sederhananya, tapi bps pasti lebih rumit.
Nah, apakah mungkin survey provinsi termiskin itu salah? Begitu saya tanya ke teman saya yang baru pertama kali minum sanger di warung kopi aceh di jakarta.
Gue gak berani bilang salah, sebagai ekonom gue harus percaya survey. Tapi survey ada kemungkinan meleset but gue gak bilang bps is wrong ya. Katanya dengan gaya khas anak jaksel.
Saya langsung potong, oke i get the point. Dengan gaya saya sok2an jaksel.
Yap, pointnya ada kemungkinan survey meleset,
mau bukti?
Buktinya ketika survey pilpres bbrp tahun lalu, semua lembaga survey menyatakan jokowi menang dengan rata2 persentase 55%.
Tapi, kami di aceh beda bro, kami prabowo menang dengan persentase 85%. Semua lembaga survey salah di daerah kami.
Pun begitu dengan survey kemiskinan, bps mengukur rata2 pendapatan perkapita. Dan rata2 penduduk aceh tidak melaporkan pendapatan. Buktinya main2 ke kampung saya, coba minta npwp ke orang2 kampung. 90% gak punya npwp, slip gaji apalagi, pendapatannya dari jual kepiting dan udang dari tambak yang gak pernah lapor pajak.
Jadi yang datanya ada di pemerintah itu cuma 10%, apa itu bisa merepresentasikan 90% lainnya? Orang bps belum tau aja harga kepiting yang hamil perkilo gram itu berapa? Kalah itu gaji pns.
Bps juga mengukur dengan rata pengeluaran perkapita. Yang menurut teman saya rata2 pengeluaran perkapita per tahun itu Rp. 10.660.000 (data tahun 2018). Kalau di hitung perbulan kira2 Rp. 880.000. Nah menurut bps, penduduk yang pengeluarannya di bawah Rp. 880.000 perbulan itu miskin.
Padahal rata2 rakyat aceh makan nasi dari sawah, ikan dari tambak, kalau udah gak ada ikan lempar jala ke puup(saya belum menemukan padanan kata puup dalam bahasa indonesia, yang penting banyak ikan disitu) udah cukup buat makan ikan sehari. Jadi bisa saja dalam sehari penduduk aceh gak mengeluarkan uang serupiahpun tapi udah konsumsi kalori lebih 2100 kalori. Yang di ibukota harus merogoh kantong sampai 30ribu. Itupun kalau di kaki lima.
Jadi, menurut saya survey kemiskinan di aceh tidak cukup dengan data2. Karena pendataan di aceh belum sebagus di provinsi2 lain. Banyak orang aceh y sudah berumur 50tahun tidak punya buku bank, apalagi npwp. Data pendapatannya tidak bisa dihitung seperti di jakarta. Selama di aceh saya belum pernah liat slip gaji. Padahal mereka kaya, rumahnya lebih besar dari rumah manager2 di jakarta.
Buat teman2 di aceh gak usah baper, itu hanya survey. Tidak bisa mendefinisikan aceh. Pun kita tidak boleh jumawa. Karena memang secara teknis aceh belum bisa di kelola dengan baik.
Anak-anak muda aceh gak usah menghabiskan energi untuk terprovokasi dengan hasil survey ini. Let's doing something for aceh (sok2an bahasa inggris biar kayak anak jaksel).
Aceh tidak miskin, dan masih sangat jauh dari kaya. Dah, gitu aja..
π½πΌπ½πΌπ½πΌπ½πΌπ½πΌπ½πΌπ½πΌπ½πΌ
My Youtube Channel:
http://youtube.com/c/sudutpndangjourney
WorldPress:
http://sudutpandangjourney.worldpress.com
PageFace: https://m.facebook.com/sudutpandangjourney
Twitter:
https://twitter.com/sudutpandangddy
Telegram: https://t.me/Sudutpandangjourney
Whatsapp: +62822-7580-9177