Jurnalisme sering kali dibenturkan pada dinding tebal bernama objektivitas. Namun, di tengah sisa-sisa lumpur pasca-banjir yang merendam Bireuen, kita harus berani mengakui satu kebenaran fundamental: jurnalis bukanlah mesin perekam yang dingin. Mereka adalah manusia yang melihat fakta dengan mata, namun mengolahnya menjadi realita melalui perasaan.
Fakta di lapangan mungkin sederhana untuk ditulis dalam angka: tinggi air sekian meter, jumlah pengungsi sekian jiwa. Namun, realita yang dihadapi jauh lebih menyesakkan. Ketika penanganan bencana berjalan lamban, fakta berubah menjadi wajah-wajah penuh amarah dan kekecewaan.
Salah satu potret paling getir yang terekam adalah karut-marutnya pendataan. Fakta bahwa ada bantuan yang turun tidak serta merta menjadi berita bahagia jika di dalamnya terjadi pemilihan data yang tebang pilih. Ketidakakuratan data ini bukan sekadar masalah administratif; ini adalah pemantik konflik sosial. Realitanya, kecemburuan antar korban meledak di lapangan. Satu warga mendapat bantuan layak, sementara tetangganya yang mengalami penderitaan serupa hanya bisa gigit jari.
Di titik inilah, beban terberat sering kali jatuh ke bahu aparatur desa. Sebagai garda terdepan, mereka menjadi sasaran empuk kemarahan warga yang merasa tidak diperlakukan adil. Fakta menunjukkan bahwa perangkat desa sering kali hanya menjalankan prosedur dari atas, namun realitanya, mereka yang harus berdiri paling depan menghadapi caci maki dan keputusasaan masyarakatnya sendiri.
Seorang jurnalis yang memiliki nurani tidak akan mampu hanya berdiri sebagai pengamat yang netral dalam situasi seperti ini. Ketika birokrasi terasa lamban dan data menjadi alat yang memecah belah, pena jurnalis harus berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar melaporkan kejadian, tapi menjadi instrumen untuk menuntut keadilan.
Ada sebuah kalimat yang menggetarkan nurani dari seorang kawan jurnalis di lapangan:
"Inilah fakta dan realita, bukan hanya masalah berita! Kemanusiaan kami bergejolak, narasi kami sudah menjadi aksi!"
Ungkapan ini adalah puncak dari sebuah keresahan manusiawi. Ketika narasi sudah menjadi aksi, jurnalisme telah melampaui tugas dasarnya. Tulisan mereka bukan lagi sekadar susunan huruf untuk memenuhi halaman media, melainkan desakan agar pihak-pihak terkait segera membenahi sistem pendataan dan mempercepat penanganan tanpa diskriminasi.
Pada akhirnya, jurnalisme yang sejati adalah jurnalisme yang memanusiakan manusia. Di balik setiap berita bencana, ada tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa fakta yang ditulis mampu mengubah realita yang pahit menjadi tindakan nyata yang memihak pada mereka yang paling terdampak. Karena pada akhirnya, jurnalis adalah manusia yang tidak bisa diam ketika kemanusiaan sedang diuji oleh kelambanan dan ketidakadilan.
Oleh : Murizal
Penyintas Banjir Hidrometeorologi Aceh 2025