Aku tak seperti murid lainnya yang senang akan liburan panjang menjelang bulan ramadhan. Bukan berati aku tak rindukan keluarga dan kerabatku yang tinggal di Takengon, Aceh Tengah. Hanya saja... aku tak suka dengan berbagai pertannyaan yang dilontarkan oleh beberapa ibu-ibu yang menurutku pertannyaan tersebut membuatku tak nyaman.
Biasanya, aku kembali ke kampung halaman setelah dua minggu bermalam di rumah bunda Aini. Bunda Aini adalah sosok yang sangat luar biasa bagiku, ia menggantikan posisi ibuku hampir sepuluh tahun lamanya.
Namun tidak untuk kali ini, aku harus pulang lebih awal dari biasanya lantaran adikku si Cerewet bersikeras untuk pulang lebih awal, tak sabar untuk bertemu dengan kemenakan katanya. Maklum, kemenakan pertama.
Gunung yang berdiri dengan kokoh telah tampak dari kaca mobil sewaan meski kabut pagi menutupi sebagian bukit-bukit. Embun pagi begitu bersahaja dan bersahabat namun tetap saja aku merasa menggigil. Mungkin aku harus menyesuaikan diri kembali dengan cuaca kampungku ini, begitulah pikirku.
Hari-hari kulewati dengan sedikit merasa bosan dan kacau. Pilek! Sesuatu yang sangat membuatku tak berdaya untuk beberapa bari ini. Kamu pasti tahu bagaimana rasanya ingus yang keluar dari kedua lubang hidung dengan sangat encer, ditambah lagi dengan batuk berdahak. Ish, aku merasa jijik dan mual dengan segala ini!
Matahari tidak selalu bersahabat dengan kampungku sehingga membuat sebagian dari mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama di bawah pohon rindang itu. Pohon yang rindang yang di kelilingi oleh rerumputan hijau dan bunga mawar kecil. Seingatku pohon tersebut telah ada sejak aku masih bocah beringusan dan berantakan. Kini pohon tersebut masih abadi hingga kini. Aku harus membeli obat ke kedai untuk mengurangi rasa ini, niatku.
Aku merasa sedikit kaku jika harus berjalan langsung ke tempat tujuanku, pada akhirnya... kuputuskan untuk menyapa dan sekedar basa-basi. Aku sedikit terperangah dan penasaran dengan sosok wanita yang tengah menimang sosok bayi yang mungil itu, mungkin usia bayi tersebut satu bulan. Seketika angin, matahari, dan seluruh isi bumi berhenti.
Dengan jilbab hitam yang lebar dan besar yang hampir menutupi lututnya, lipstik yang bewarna merah membuatnya lebih terlihat tua dibandingkan umurnya, dan bedak yang membuatnya lebih anggun menurutku. Dan... kamu tahu siapa dia?
Dia Marliana! Adik kelasku yang pernah berstatus janda saat usianya empat belas tahun akibat pernikahan dini. Dan kini ia telah menjadi sosok seorang istri dan ibu dari kedua putranya yang kebetulan kembar.
Subhanaullah! Kini di usianya enam belas tahun telah berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu dari bayi kembar yang mungil itu. Kuambil bayinya sari pangkuan seorang ibu dan mencoba membuatnya tertawa, namun aku tidak berhasil untuk kali ini. Kualihkan pandanganku pada bayi yang tengah ditimang oleh Marliana yang ternyata adalah abangnya, ia tertawa dan aku merasa bahagia karena dapat membuatnya tersenyum.
Aku hanya bisa tersenyum dan memberikan sedikit informasi bahwa bayi yang berusia satu sampai enam bulan seharusnya tidak perlu diberikan asupan lain kecuali ASI. Marliana sedikit menganggukkan kepalanya tanda paham atas apa yang telah kujelaskan padanya.
Seketika pertanyaan yang telah kuduga dilontarkan padaku.
" Ida kapan nyusul? Lihat tuh, si Marliana udah punya anak dua, si Ana pengantin baru, si Lisa udah mau nikah, dan Nina juga sedang mengandung!?" tanya ibu Mar salah satu dari mereka. Ibu-ibu yang lain ikut meramaikan dan melanjutkan dialog tersebut dengan sedikit canda dan tawa.
" Hehehe, Ida mah mau sekolah dulu buk Mar. Belum siap untuk sekarang, nanti kalau udah waktunya tiba... undangan untuk buk Mar pasti datang kok," jawabku dengan senyuman yang dipaksakan, namun senyuman tersebut masih dapat dikatakan senyuman manis menurutku. Dengan sedikit melangkahkan kaki kuberikan kembali si Adik pada ibu Mar dengan berpamitan hendak melakukan sesuatu yang penting.
Kuberjalan dan terus berjalan hingga akhirnya pohon dan sekumpulan ibu-ibu hilang dari kejauhan. Nikah, mengandung, dan memiliki anak di usia muda bukanlah sesuatu yang baru di kampungku. Hal tersebut menjadi hal yang biasa karena telah menjadi sebuah kebiasaan. Jadi, jangan heran jika kamu melihat fonomena tersebut terjadi di kampungku.
Entahlah... hidupku adalah pilihanku! Hanya kata tersebut yang dapat menghibur dan memberiku sedikit semangat untuk menjalankan hari-hariku. Aku tidak mengatakan bahwasanya nikah muda tidak bagus atau sejenisnya, hanya saja aku tidak siap untuk sekarang. Pada suatu saat aku juga akan menjadi sosok seorang istri dan seorang ibu bukan?