Rini melangkah menuju rumah Maryam sore hari ini. Selain memiliki janji untuk bermain ke rumah Maryam, ia pun menyandang amanat dari Hasan untuk menyampaikan titipan. Entah tentang apa isi titipan itu, Rini tak begitu tahu, tapi yang penting ia harus segera menyampaikannya.
“Eh, Bu. Apa kabar?” Rini langsung menyalami ibu dari temannya.
“Aduh, Neng Rini, kemana wae?” Ibu setengah baya itu langsung mengusap-usap bahu Rini. pertanda begitu rindu. Mungkin sudah begitu lama Rini jarang bersilaturahmi lagi ke rumah Maryam semenjak kuliah.
“Sibuk kuliah, Bu,” jawab Rini dengan senyum santun, “Maryam ada, Bu? sambungnya. pandangannya memendar ke dalam rumah.
“Ada di kamarnya. Yuk ibu antar.”
Rini mengangguk. Mereka berdua langsung menuju kamar Maryam.
“Maryam! ada Rini, nih!” pekik sang ibu, menunggu di depan pintu kamar bersama Rini.
Terlihat pintu langsung dibuka, tak harus menunggu lama. Karena ini memang bukan acara pembuatan e-ktp.
“Eh, Rin, Apa kabar?” Maryam langsung memeluk Rini. penuh senyum, begitu bahagia memecah rindu.
“Jawab, Mar. Kamu jangan menutupi masalahmu. Kita sudah berteman dari kecil. Dari dulu kamu tak pernah menyimpan rahasia apapun. Aku suka curhat sama kamu, kamu pun sama. Kenapa? Kamu tidak sebahagia dulu ketika Hasan pertama kali memberi surat padamu?”
“Rin, Aku…” Maryam langsung memeluk Rini. Ia tak mampu berkata-kata. Sepertinya berat untuk mengungakapkan semuanya.
Rini langsung terkesiap. Suasana riang berbalut rindu menjadi sedikit tegang. Rini cukup menyesal telah bertanya perihal masalahnya. Namun, ia juga tak ingin Maryam memendam rahasia. Ia selalu ingin membantu masalah yang dihadapi Maryam. Dari dulu ia selalu berusaha seperti itu.
“Aku tambah sakit kalo mengingat A Hasan, Rin.” Maryam kini menangis. Rini mencoba menenangkan. Ia membelai kepala Maryam layaknya seorang ibu. Maryam semakin erat memeluk bak anak bayi yang tak ingin ditinggal mencuci baju.
“Tenang dulu, Mar. Coba ceritakan.”
Maryam melepaskan pelukannya, lalu ia menyeka air mata lembutnya, “Aku sudah dijodohkan oleh A-ayah dengan orang la-lain, Rin…” Masih tersedu-sedan. Tangisannya semakin dalam. Begitulah cinta, kalian pasti paham.
“Apa? Serius?” Rini kini tak kuasa melihat kesedihan Maryam. Ia terpaksa ikut menangis dan memeluk kembali Maryam.
“Ia, Rin. Se-sebenernya rencana ini su-sudah lama. Aku belum sempet cerita sa-sama kamu, tapi undangan sudah disebar. Cuma ka-kamu yang belum aku kasih.”
“Sabar…,Mar.” Rini menutup dulu segala rasa penasaran. Ia ingin Maryam menenangkan diri dulu. Biarkan ia menumpahkan rasa sedih.
“Rin, kalo kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?” lirih Maryam. Matanya menatap mata Rini yang berbulir air mata juga. Ia sama merasakan kesedihan yang dirasakan Maryam.
“Jujur, Mar, Kalo saja itu menimpa padaku, mungkin aku akan berontak, kabur dari rumah, atau lain sebagainya untuk melolosakan diri dari kurungan keputusan orang tua. Tapi, mungkin juga aku akan merasa kebingungan yang menyakitkan. Kamu memang hebat. Mampu menerima segala keputusan orang tua walaupun itu menyakitkan,” jelas Rini dengan sendu.
“Aku tak bisa berbuat apa-apa, Rin. Aku merasa akan berdosa kalo menentang orang tua.”
“Apa kamu masih ada perasaan sama A Hasan?” tanya Rini langsung memotong pembicaraan.
Maryam, wanita yang paling dekat dengannya. Ia sangat hafal tipe laki-laki yang diinginkan Maryam. Bukan, bukan sembarang laki-laki yang bertemu sore hari lalu menerima cinta keesokan harinya. Tak mudah untuk seorang laki-laki bisa meluluhkan hati Maryam.
Hasan, lelaki yang memiliki akhlak baik atau setidaknya sepadan dengan Hasan. Mungkin lelaki seperti itu yang diharapkan Maryam. Dari dulu, Maryam tak pernah mengoceh tentang laki-laki. Setiap dipaksa menjawab pertanyaan mengenai tipe laki-laki pun, ia tak sedikit pun menyinggung materi dan rupa semata dalam menentukan pilihan pasangan. Ia selalu menjunjung tinggi akhlak.