Sahabat yang berbahagia. Apa kabar kalian semua. Pastikan kita selalu sehat baik jiwa dan raga dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Hari ini merupakan hari yang sangat istinewa bagi saya pribadi. Mengapa? Karena hari ini buku terbaru yang saya tulis sudah selesai cetak dan telah sampai di tangan saya.
Buku tersebut berjudul '7 Alasan mengapa Harus ke Banda Aceh'. Buku ini saya tulis nyaris setahun. Seharusnya bisa terbit dan beredar akhur tahun lalu. Namun karena berbagai kendalan teknis dan non teknis, buku ini baru bisa selesai cetak pada akhir April 2018 ini.
Buku sederhana dan diterbitkan Mahara Publishing ini, menuliskan tentang potensi yang dimiliki Kota Banda Aceh, sebagai ibukota Provinsi Aceh. Terutama menyangkut wisata religius dan sejarah, termasuk arkeologi.
Sejumlah potensi itu, sebagian kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah daerah. Sehingga orang berkunjung ke Aceh hanya mengetahui potensi wisata yang ada saja. Sebut saja Masjid Raya Baiturrahman, Pantai Ulee Leuhe, museum tsunami dan lain yang sering bahkan teramat sering diungkapkan orang dari mulut ke mulut.
Aceh sebagai daerah peradaban Islam nusantara terlalu banyak yang seakan dilupakan. Seperti halnya Syiah Kuala. Mengapa beliau begitu disanjung dan dihormati sampai ke manca negara. Sehingga tak mengherankan dalam bulan tertentu setiap tahunnya, ratusan warga negara Malaysia berkunjung ke Banda Aceh hanya untuk berziarah ke makam Tgk Syiah Kuala.
Belum lagi mengapa Peunayong sebagai daerah China town nya Aceh, disebutkan dengan nama Peunayong. Ada apa dengan Peunayong? Lalu ada apa dengan Kampung Keudah. Mengapa di negeri jiran Malaysia juga ada kampung Keudah?
Lalu tahukah kita bahwa kerajaan Aceh Darussalam dulu memiliki 9 Siwah - senjata para raja-- yang kini tersimpan di satu museum milik pribadi seorang penyelamat warisan budaya indatu orang Aceh. Siapakah dia?
Nah.. Dalam buku inilah semua petanyaan tersebut saya coba ungkap, dari hasil wawancara, riset dan penelusuran berbagai refrensi yang bertebaran di berbagai tempat.
Secara pribadi buku ini hanya keinginan untuk mendokumentasikan fakta dan data sejarah Aceh tersebut. Hingga bisa diwariskan pada generasi masa depan. Sehingga mereka tidak akan pernah melupakan dari mana mereka berasal.
Mungkin masih banyak kekurangan isi dari buku ini. Itu tak lain hanya kelemahan saya dalam menggali lebih dalam fakta dan data yang ada. Meskipun hampir seluruh jengkal bumi Banda Aceh padahal ini adalah jejak sejarah.
Bersama editor
Terakhir...
Terimalah persembahan ku ini, wahai koetaradja.
Ku ingin melihat Putroe Phang tersenyum.
Para raja dan bangsawan keturunan Bugis tidur nyenyak di peraduan.
Menikmati gemercik air yang mengalir alun Krueng Doy.
Dalam ke syahduan alunan azan sang bilal
Membahana dari menara Baiturrahman