Paris? Tidak pernah ada dalam rencana perjalanan saya. Mungkin karena hati memang tidak tertarik saja.
Namun kadang hidup menyajikan kejutan, yang kadang gagal kita prediksi.
Saya sedang iseng-iseng membuka aplikasi FlixB*s. FYI, itu adalah suatu jasa bus murah di Eropa. Jangkauannya lumayan luas, murah, lumayan nyaman dengan toilet dan Wifi. Daaaan... saya lihat promosi tiket murah, hanya 8 Euro dari Heidelberg ke Paris!
Pergi gak ya?
Saya iseng mencoba memasukkan kode voucher yang baru saya beli dari seorang teman. Dan eh rupanya, kalau memasukkan kode voucher itu dan tekan next, langsung terpakai kode vouchernya, gak bisa dibatalkan lagi. Lalu saya loading...
Loading...
Paris, sebagai gambaran untuk semua sahabat, bukan hanya sebuah negara yang bercitrakan romantis, indah, sering dipakai untuk syuting film dan sering jadi latar belakang dalam novel-novel. Namun Paris juga negara turis yang crowded, agak kumuh, dan tidak aman! Pencopetan dan scam atau penipuan adalah hal yang biasa di Paris. Meski ketika saya di sana para tentara dan petugas keamanan diletakkan di berbagai tempat (plus luggage check dan body check-nya ngeselin di tempat-tempat itu), tetap aja kejahatan terjadi. Bahkan, saya kaget karena barang bawaan saya diperiksa ketika masuk McD!
Eh, balik lagi cerita sebelum berangkat ya. Jadi walau reputasi Jerman lumayan aman sehingga saya sering jalan-jalan sendirian, di Paris saya tidak seberani itu. Saya membayangkan paspor atau dompet saya dicopet, atau sesuatu yang lebih buruk. Saya mengontak beberapa teman, mencari mahasiswa yang mungkin bisa menemani ketika di Paris.
Alhamdulillah, dapat dong. Seorang mahasiswa yang kebetulan dari Aceh juga dan udah lama tinggal di Paris. Sempat deg-degan juga karena mahasiswa itu susah banget dihubungi, sampai beberapa hari sebelum keberangkatan, dia gak respon pesan saya.
Hingga sampailah saya di Paris!
Kesan pertama saya benar. Bercy Seine, terminal busnya kumuh, jorok, banyak gelandangan dimana-mana. Begitu juga dengan kotanya. Toilet umum yang saya masuki di restoran juga jorok, di mesjid apalagi. Well... kalau dibandingin sama Indonesia, kira-kira keadaannya sama. Beda banget dengan Jerman, dimana toilet umumnya selalu bersih, termasuk mesjid dan restoran.
Nah, dari toilet dapat kan gambaran Paris gimana?
Mahal? Ya, secara keseluruhan, saya bisa bilang bahwa Paris tergolong mahal, meski ada sedikit trik untuk mendapatkan harga murah di sana. Tapi keseluruhannya, siapkan dompet kalau mengunjungi Paris.
Yang baiknya tentu saja ada. Saya suka dengan view Paris, terutama di malam hari. Arsitekturnya mengagumkan dan Eiffel benar-benar bisa jadi alasan untuk mengunjungi Paris. Ketika melihat Eiffel, saya mengaguminya dan mengingat gambaran-gambaran tentang Eiffel di novel yang pernah saya baca. Benar, itu tidak berlebihan. Eiffel saja, tanpa yang lain-lain sudah cukup jadi alasan mengapa Paris menarik untuk dikunjungi.
Pertanyaan: mau ke Paris lagi?
Hm.. saya belum masuk ke Louvre dan belum ke Versailles. Jadi mungkin saja balik lagi.
~Heidelberg, sekejap perjalanan, lalu lenyap