
Untuk lebih jelasnya tentang tari Rateb Meuseukat, berikut ini dikutip tulisan dari wekipedia tentang tari rateb meuseukat, sebagai berikut:
Tari Ratéb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arabyaitu ratéb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam. Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya. Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agamamalam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman dari suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang. Keterkenalan tarian ini seperti saat ini tidak lepas dari peran salah seorang tokoh yang memperkenalkan tarian ini di pulau Jawayaitu Marzuki Hasan atau biasa disapa Pak Uki.
For more details about Rateb Meuseukat dance, the following is quoted from wekipedia about rateb meuseukat dance, as follows:
Ratéb Meuseukat dance is one of Acehnese dances originating from Aceh. Ratéb Meuseukat's name comes from the Arabic language, which means the origin of the word ratib, meaning worship and meuseukat, from the word sakat, which means silence. It was reported that Ratéb Meuseukat's dance was created by his movement and style by Teungku Abdurrahim aka Habib Seunagan (Nagan Raya), while his poetry or ratéb was created by Teungku Chik in Kala, a scholar in Seunagan, who lived in the XIX century. the contents and contents of the poem consist of flattery and praise to Allah and praise to the Prophet, played by a number of women in traditional Acehnese clothing. This dance develops a lot in Meudang Ara Rumoh Baro in Aceh Barat Daya district. at first Ratéb Meuseukat was played after completing a religious lesson in the day, and also this was not separated as a medium of propaganda. The game is performed in a sitting and standing position. in the end, the game of Ratéb Meuseukat was also shown in religious ceremonies and holidays, wedding ceremonies and others that did not conflict with religion. At present, this dance is the most famous dance in Indonesia. this is due to its beauty, dynamism and speed of movement. This dance is very often misinterpreted as the Saman dance from the Gayo tribe. Whereas between these two dances there are very clear differences. the main difference between the Ratéb Meuseukat dance and the Saman dance is 3, namely, the first Saman dance uses the Gayo language, while the Ratéb Meuseukat dance uses the Acehnese language. Second, the Saman dance was performed by men, while the Ratéb Meuseukat dance was performed by women. third, Saman dance is not accompanied by musical instruments, while Ratéb Meuseukat dance is accompanied by musical instruments, namely rapa'i and geundrang. the fame of this dance as it is today cannot be separated from the role of one of the figures who introduced this dance on Jawaya Island, Marzuki Hasan or usually called Pak Uki.