Dikelilingi oleh mantan-mantan pecandu itu sesuatu banget. Berbagai pengalaman kehidupan mereka selalu membuat saya bercermin berkali-kali. Dalam sehari saya bisa bercermin minimal 3 kali. Ngaca lihatin muka gak berubah-ubah, #Eh. Maksudnya ngaca lihatin diri kapan berubah jadi orang baik beneran, kapan karakter-karakter buruknya hilang, kapan jadi orang yang ikhlas dan selalu berbuat baik, kapan hati ini bersih, pokoknya ceut langet selalu.
Menelusuri kehidupan pecandu ini sebenarnya geli-geli seru. Banyak hal yang selama ini cuma ada di novel dan skenario film, kini kisah seperti ini nyata terdengar langsung dari pemainnya, dan ini ada di Aceh. Kisah-kisah menegangkan, perampokan, pembunuhan, kehidupan brutal seorang mafia, konflik-konflik yang melayangkan darah, menipisnya gadis perawan, hingga nasib seorang gigolo. Semua ini hanya masa lalu mereka. dan masih menjadi permainan masa sekarang bagi pecandu aktif.
Pengalaman hidup pecandu lebih banyak dibandingkan kita yang non-addict. Kisah brutal hingga tangisan mafia. Semuanya membuat saya tersadar bahwa setiap titik-titik masalah yang saya alami ini gak ada apa-apanya. Pengalaman-pengalaman kenakalan saya dulu masih sebutir debu. Saya tidak sehebat mereka (pecandu yang sedang merawat pemulihan). Mereka setiap harinya terus melakukan inventaris moral, melakukan penembusan karena kesalahan masa silam, hingga terus belajar berbuat baik hanya untuk hari ini hingga hari-hari selanjutnya.
Kalau kata si bos, mereka ini keselo sedikit. Keselo yang lama-lama bikin ketergantungan. Sakitnya gak ada resep dokter yang mampu sembuhin. Obat satu-satunya letak di diri sendiri. Gampang-gampang susah. Kalau kita bukan pecandu, ngomongnya sih gampang. Tetapi mereka harus berusaha seumur hidup untuk merawat pemulihannya dari kecanduan narkoba.
Pecandu yang sedang menjalani pemulihan, jika ia benar-benar berubah, akan jadi 1800 lebih baik dibandingkan kita yang bukan pecandu. Tidak hanya itu, kecerdasan IQ mereka bisa 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kita yang bukan pecandu. Namun, yang benar-benar mau berubah dan bertaubat itu tidak semuanya. Mereka juga terkikis oleh seleksi alam.