Penulis: Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nesi Luntungan
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Pengulas:
Buku yang menceritakan tentang seorang pemuda keturunan Tionghoa bernama Soe Hok-gie yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Hok-gie lahir saat perang di Pasifik berkecamuk, 17 Desember. Ini sepenggal kisah perjalanan hidup Hok-gie hingga akhir hayatnya di puncak Mahameru.
Pembaca disuguhkan perjalanan hidup Hok-gie yang diceritakan menurut kesaksian kawan semasa hidupnya, salah satunya Rudi Badil dan Herman Lantang. Mengenal dan mengenang sosok pemuda yang kritis dan patriot, serta tak lupa kecintaan pada alam Indonesia.
Soe Hok-gie dan kawannya, Idhan Lubis meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, karena gas beracun. Gie meninggal 1 hari sebelum hari lahirnya, tgl 16 Desember 1969.
Yang menarik di buku ini ialah kisah perjalanan Gie bersama mahasiswa UI mengikuti kembali jalan yang sudah hilang di Pangrango.
Soe Hok Gie pernah berkata, "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan, tetapi mati muda. Yang tersial adalah umur-umur tua, rasanya memang seperti itu."