Gelap masih setia menyelimuti. Suara merdu binatang, tanpa lelah memanggil sukma. Ingin rasanya menyambung sepi, kembali mengembara dalam lautan alam, sendiri, tanpa tahu-menahu. Pun, sirna terpatahkan, bacaan do’a sayup-sayup terdengar pada toa tua. Mimpi pun menjadi dilema.
Bisikan datang, sangat dalam menembus tulang belulang, dengan hangat mencumbu kalbu, seakan menjadi dogma. Diri, jangan biarkan ini. Bukankah diri? Kau punya tameng suci. Jadikanlah aku...
Patahkan... patahkan...
Urat kepala diam membeku. Membisu dalam kepalsuan. Dilema dalam bayang, antara sekarang dan nanti saja. Terpikir, “sudahlah, nanti saja,” wahai sukma, “jangan ‘lah kau bersumpah kata.”
Jangan ‘lah kau bersumpah kata.
(Pukul tiga pagi)