Pesan terakhir yang kubuat untukmu jika kamu melihat tulisanku ini, bukan berarti aku tidak mau menghubungimu lagi lewat media lain namun aku terlalu menjadi orang yang tidak kamu inginkan lagi, aku sadar aku harus apa, (pergi).
Hai, ini aku yang ingin menyapamu walau aku sering menyapamu dalam doaku namun kamu terlalu acuh dengan nuranimu. Aku tahu posisimu aku paham keinginanmu dan aku mengerti perasaanmu sejauh ini setelah kejadian itu aku sering berfikir semua hal tentang itu. Namun aku sadar itu bukan kapasitasku untuk mengubahmu kamu adalah manusia yang di beri akal dan kamu juga sudah dewasa dalam menentukan pilihan.
Kamu juga sakit kan? bukankah dulu ada cita-cita yang akan kita wujudkan banyak hal yang belum kita realisasikan. Aku mau berjuang sama-sama dan aku juga mampu untuk bertahan sejauh ini sampai akhirnya aku memilih pergi karena kamu sudah membuangku dan melepaskanku secara halus ketika aku engkau suruh merespon orang lain, terimakasih untuk kesabaran yang selama ini kau berikan, padahal aku punya impian besar bersamamu kelak tapi semuanya sudah musnah sirna, lebih tepatnya aku ingin berbicara segala apa yang ada di dalam hatiku saat ini, boleh kan?.
Bukan bagaimana aku mengguruimu dan bermaksud memojokkanmu ada beberapa ucapan yang saat itu terlontar dari mulutmu dan sangat membekas dibenakku namun kenyataannya sekarang tidak sesuai seperti itu. saat itu aku sangat percaya kamu tidak akan meninggalkanku kecuali ada pihak ketiga kan? ini konteks perpisahan diluar ekspektasiku jujur aku sangat dijatuhkan sebagai wanita ketika aku menaruh harapan dan menaruh keyakinan dan berfikir waktu itu kamu adalah pilihan terakhirku yang mau merangkulku dalam keaadaan susah maupun senang. Bukannya tidak menerima keadaan yang sekarang ketika kita sudah tidak bersama insyaallah aku ikhlas dengan semuanya dan semoga aku bisa melanjutkan hidupku namun sangat disayangkan ketika perpisahan itu hadir kamu tidak mengucapkan apapun untukku.
Bagaimanapun sebenarnya aku malu mengungkit semuanya karena kamu memilih diam dan pergi begitu saja tanpa kata pamit dan meminta maaf. berat sekali bebanku menyaksikan perilakumu yang sangat jahat bagiku seakan-akan aku tidak pernah memberi kebahagiaan dalam hidupmu saat bersamaku.
Meskipun aku bilang aku menulis ini dengan air mata mengalir kamupun tidak akan peduli lagi, iya nggak apa-apa aku sudah tahu. Oh iya aku sudah mengerti apa arti kalimatmu dulu " kalau kita jodoh, kan enggak tahu rencana Allah " ternyata kamu yang mewujudkan perkataanmu ini karena sejak awal kamu sudah tidak berkenan buat sama-sama denganku apa aku senggakpantasnya itu buatmu.
sebenarnya banyak sekali yang aku ingat darimu saat-saat dimana kita awal kenal sampai sekarang, aku mau tanya apakah aku pernah menyusahkanmu? apakah aku pernah merepotkanmu? apakah aku pernah menuntutmu? sekali lagi kalau ada kesalahanku aku mohon maaf. Kamu kurang bersyukur dapetin aku karena memang tujuanmu bukan seriusin aku, aku sadar banyak kurangku, berulang kali aku sudah menyelamatkan hubungan ini ketika kamu ingin pergi, aku berusaha keras buat semua baik-baik saja namun waktu itu kamu sudah sangat keterlaluan dan mendorongku ke jurang, aku sudah tidak bisa apa-apa pilihannya memang takdirku harus terjun ke daam jurang itu, Tapi asal kamu tahu hubungan tidak akan hancur kalau rasa cinta cowoknya lebih besar dari ceweknya. aku sudah memberi semua rasa cintaku buat kamu tapi kamu memilih menyerah cuma karena hal itu.
Walau masih bisa senyum didepan orang namun sudah tak selepas dulu (foto itu), terimakasih sudah meninggalkanku bersama luka, amarah, depresi, dan trauma kamu adalah lelaki hebat yang sudah mematahkan kedua sayap wanita tak berdaya ini. semoga hidupmu bahagia bersama orang lain yang kamu harapkan. saat kamu terluka cari aku, aku ada untukmu.
Dari aku yang selalu mencintaimu. sayangđź’“