Siapa yang layak digelari pemimpin?
Mengapa Ikan Paus kita sebut sebagai Raja di laut, Singa sebagai Raja di hutan, dan Elang sebagai Raja di udara? Apakah karena mereka paling bringas dalam memangsa yang lain, sehingga ia dinobatkan sebagai Raja? Padahal kalau mau jujur, ia lebih layak disebut sebagai seekor penjahat!
Menjadi pemimpin itu bukan berarti karena ia paling sering memangsa atau menerkam yang lain untuk memuaskan hawa nafsunya. Pemimpin itu adalah mereka yang memiliki kasih sayang, sifat melindungi, jiwa penolong seperti layaknya lumba-lumba di lautan, gajah di hutan, dan merpati di angkasa. Pilih pemimpin karena memiliki sifat kasih sayang, pelindung dan penolong, bukan karena kebringasannya, keganasanya, dan keangkuhan karena mampu menerkam yang lain.
Mewaspadai Iblis
Dalam suasana politik yang kian memanas, kita sebentar lagi akan memasuki sebuah musim yang bernama fitnah, hoak, hujat-menhujat, caci-maki atau sejenisnya. Mereka datang bisa secara individu, kelompok, maupun secara bergerombolan, dengan membawa bendera pejuang kebenaran namun bertiangkan kepentingan. Mereka bisa tampil dengan pakaian preman maupun pakai sarungan, berpeci atau bersurban. Mereka punya puluhan topeng yang akan di kenakan kapanpun saat dibutuhkan. Itulah iblis agamis, iblis sosio-cultural, iblis profesi, atau tehnokratik. Dan selama hidupmu, engkau harus memperlakukan iblis sebagai musuh terbesarmu, dan selama hidupmu pula engkau harus mewaspadai iblis yang hadir dalam wujud manusia dengan berbagai macam latar belakangnya. Dan iblis dalam wujud lain itu, bisa saja mengucapkan kata-kata yang sebenarnya jatah malaikat. Oleh karena itu, mohonlah perlindungan dari segala godaan syetan yang terkutuk. Waspadalah.. Waspadalah..
Untuk apa meruntuhkan kerajaan Iblis jika hanya untuk menegakkan singgahsana syaitan?
Demikian dua pandangan singkat malam ini, semoga menjadi bahan perenenungan buat kita semua.
Posted from my blog with SteemPress : https://munawarpasilhok87.000webhostapp.com/2018/08/memilih-pemimpin-dan-mewaspadai-iblis-dalam-wujud-lain