Pak Didin memanen Daun Kelor yang kaya manfaat. Kelor banyak digunakan sebagai pangan sehat sumber nutrisi bagi masyarakat
Tani pekarangan adalah langkah sederhana untuk memperbaiki pangan dan lingkungan keluarga. Selain kita bisa memproduksi pangan sendiri, juga ikut menyumbang penginjauan. Asas manfaatnya sudah saya rasakan sejak kecil, berkat nenek saya yang rajin sekali menanam buah-buahan, dan rempah-rempah.
Namun, lahan kian sempit hari ini. Bahkan bagi pekarangan di perkampungan di derah saya - Kabupaten Tangerang. Dampaknya, lahan hanya dipakai untuk bangunan saja. Tanaman tidak dapat tempat lagi.
Kenyataan itu justru terbalik di rumah Pak Didin. Ia adalah pemilik Padepokan DS Costum, bengkel yang sangat tekun mereparasi Blazer. Sekilas hubungan pertanian pekarangan dengan pekerjaannya tak ada hubungan. Namun beda cerita bila saya menghubungkan dia dengan #OdesaIndonesia, ia adalah salah seorang yang aktif bergiat di yayasan tersebut.
Buah Tin yang matang. Rasanya manis dan kaya vitamin. Buah ini telah menjadi daya tarik tetangga Pak Didin untuk bertani di pekarangan rumah sendiri
Pertanian di pekarangan rumah juga jadi perhatian Odesa. Begitu pula dengan Pak Didin. Saya langsung diperlihatkan di depan mata kepala sendiri. Bagaimana pekarangan rumahnya yang tidak begitu luas, tetapi sangat berguna bagi tumbuhnya kelor, hanjeli, pohon Tin hingga pohon buah naga. Luasnya kira-kira 7 x 2 m.
Saya dan rombongan, Jajang dan Mang Toha, kemudian ditunjukkan puluhan pohon Tin yang sedang berbuah di atas loteng lantai tiga rumahnya. Berbagai macam Tin ia tanam di lantai beton tak beratap itu. Kami semua terpukau dengan hasil Tin yang ditanamnya. Bagaimana tidak, ia sudah begitu sibuk di bengkelnya. Namun masih sempat mengurus puluhan tanaman di pekarangan hingga membuat pupuk kompos segala.
"Jam berapa pun saya pulang, saya sempatkan menyiram tanaman atau sebelum saya berangkat kerja," kata dia
Ia mengakui apa yang dilakukanya itu merupakan hasil dari aktivitas yang berdasarkan kemauan hati. Kemudian penuh dengan konsistensi, yakni meluangkan setengah jam hinga satu jam saja.
Pak Din tidak hanya bergerak sendiri. Ia punya keinginan untuk menginspirasi banyak orang. Tetangga di samping rumahnya, sudah mengikuti langkahnya. Mulai menanam pohon kelor.
Pohon Kelor atau Moringa yang tumbuh di tanah menganggur di Komplek Permata Biru, Kota Bandung, Jawa Barat. Lahan tersebut dikelolah oleh Pak Didin
Pak Didin ingin membuat lapisan masyarakat kota, seperti yang tinggal di komplek, giat menanam pohon di pekarangan yang ada. Intinya memaksimalkan yang ada.
Setelah melihat pemandangan tanaman pekarangan rumahnya, saya diajak ke lahan tanpa bangunan, disekat kira-kira tiga rumah dari belakang rumahnya. Meski saat itu hari sudah gelap, tetapi betang-batang tanaman muda terlihat menjulang. Beberapa tanaman kelor sedang rontok karena ditempa kemarau 2019 yang cukup panjang.
Pak Didin menggunakan lahan menganggur itu menjadi produktif. Luasnya cukup untuk menampung ratusan pohon. Yang sudah ditanam ialah beberapa tanaman herbal seperti Kelor, Daun Afrika, hingga pangan seperti hanjeli.
Salah satu tetangga yang ikut bertani pekarangan
Hasil ini belum memuaskannya. Ia masih giat untuk mengubah pikiran orang-orang. Agar mereka bisa memanfaatkan lahan yang ada semaksimal mungkin. Menjadi orang kreatif untuk bertani di pekarangan sendiri.