Menuruni puncak bukit bagi saya lebih sulit dibandingkan saat menanjak. Hak itulah yang saya rasakan saat menuruni salah satu bukit beberapa hari yang lalu. Dengan kemiringan mencapai 60°, kaki dan lutut saya seolah sulit sekali menampung beban berat tubuh ini yang mencapai 70 kg. Bayangkan bagaimana sulitnya menuruni bukit dengan kemiringan dan berat tubuh seberat itu?
Menuruni bukit adalah sebuah analogi dari perjalanan hidup kita. Baik dan turun menjadi hal yang selalu akrab dengan apa yang kita alami begitu juga dengan menuruni bukit. Kita harus memiliki kaki yang kuat untuk dapat menuruni bukit dengan mudah.
Proses menanjak bukannya mudah, namun dia mudah karena dibandingkan dengan proses menuruni bukit. Oleh karenanya, anda bisa bertanya pada orang yang memiliki hobi naik gunung, tentu mereka akan menjawab lebih mudah naik dibandingkan turun. Walaupun beban yang kita rasakan lebih besar saat naik, namun kaki kita tidak terbeban dengan kemiringan dan berat tubuh. Proses menaiki sebuah bukit atau gunung lebih menarik karena saat naik kita akan memiliki sejumlah motivasi yang lebih kuat untuk merasakan puncak yang kita idamkan. Namun berbeda saat turun, kita seakan tidak memiliki apapun kecuali kenangan yang tidak ingin ditinggalkan. Sehingga proses menuruni sebuah bukit adalah tantangan yang akan menjadikan kita menghadapi masa depan sesungguhnya.
Oleh karena itu, tetaplah selalu yakin dengan masa depan. Tataplah masa depan dengan percaya diri.