Renjana di Puncak Salak
Angin segar yang membelai permukaan kulit dengan lembut mengingatkan diri bahwa masih banyak yang patut disyukuri. Suara datang silih berganti; percakapan orang, pelayan yang datang lalu menghilang, serta kendaraan yang lalu lalang. Dengan renjana di hati, seluruh polusi suara itu lenyap disapu angin. Sebab di Puncak Salak, anginlah sang penguasa.
Andai bisa memilah sampah suara dengan mudah, betapa indahnya hidup ini. Ketika gangguan datang tanpa diundang, langsung kita tendang menjauh. Tak berani lagi mengusik hati.
Barangkali kita memang harus merasa segala sebagai pelengkap rasa yang ada. Ketika yang datang jauh dari harapan, kita belajar darinya untuk lebih mengenal diri dan semua yang ada.
Renjana di Puncak Salak, perbatasan Aceh Utara - Bener Meriah, terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Izinkan saya berbagi, meski bukan lukisan alam yang lengkap dengan aroma segar.