Dear steemian friends..
Alue Trieng, begitulah nama sebuah aliran mata air kecil didesaku dikenal semenjak dahulu, rimbunan pepohonan bambu yang tumbuh padat disisian alur mentasbihkan nama yang kekal hingga saat ini.
Alue Trieng menyimpan banyak misteri, semenjak zaman Belanda, DI/TII, bahkan hingga era Gerakan Aceh Merdeka, entah berapa puluh raga telah roboh di Alur yang sesekali kering dan lembab, namun kondisi pasang bila hujan sedang membanjiri lereng-lereng bukit disekitarnya. Lokasinya yang strategis dan memiliki sumber air yang mencukupi sering dijadikan persembunyian para gerilyawan saat konflik dulu. Kini alue Trieng menjelma bak jalanan di Ibukota, jembatan yang dulu telah dirusak kaum pejuang, kini telah diperbaiki dengan dana otonomi khusus.
Saat aku masih di kampung, paska perdamaian alur ini sering kami jadikan tempat bermain meriam bambu, suara ledakan meriam bambu seakan menggema meronttokkan dedaunan bambu kering di alur itu. Pun begitu, dari seluruh pemuda di desa ku tidak ada yang berani turun ke alur, konon disana ada sepasang "King cobra" penghuni alur berbambu itu, cerita itu benar adanya, pernah sekali aku menyaksikan dengan mata kepalaku, seekor cobra besar melintasi jembatan, memotong perjalananku yang hendak menuju rumah nenek dikampung halamanku. Masyarakat di kampungku percaya bahwa sejudo (sepasang) King cobra itu adalah penjaga Alue Trieng, agar tidak ada warga sekitar yang memotong dan menghilangkan bambu disana untuk keperluan pribadi dan koorporasi. Nah teman steemian itulah sekilas cerita Alue Trieng di kampung halamanku, berikut adalah beberapa photography suasana Alue Trieng kini, yang ku abadikan siang tadi saat melintas menuju kampung halamanku , semoga teman steemian menyukainya.
Photos taken by Xiaomi Redmi Note 4
Aceh -Indonesia
![]()