Jalanan lintas ini juga mulus. Aspal licin mengular hingga ke Kabupaten Bener Meriah. Tetapi tetap harus waspada, sebab di beberapa titik ada longsoran tanah. Pemandangan di lintasan ini juga bagus sekali. Kanan kiri perbukitan berbaris tiada henti-hentinya. Memanjang hingga tampak gunduk-gundukan hijau pepohonan. Di beberapa area juga terlihat perkebunan warga. Umumnya mereka bercocok tanam pohon pisang. Jarang sekali saya temukan pohon kopi.
“Di sini udaranya masih panas, nggak dingin,” ujar Pak Husni yang ikut serta dalam rombongan. Doi kelahiran Takengon, jadi tahu jenis cuaca yang cocok untuk menanam kopi.
Ada satu lokasi yang ingin saya samperin saat melewati jalur ini, yaitu Gunung Salak. Saya sudah bisikin Pak Husni, ketua rombongan, untuk mampir ke sana. Lokasi ini lumayan hits beberapa bulan lalu. Setiap hari, di Instagram, ada aja yang posting fotonya. Bahkan, saya juga pernah membaca di salah satu media lokal, kalau liburan Idul Adha kemarin Gunung Salak ini padat merayap pengunjung.
BACA JUGA Aduh, Sakitnya Terguling-guling di Tangga Hotel: Jalan-Jalan Aceh #1
INI JUGA DIBACA Sengsaranya Menginap di Hotel Negara Api: Jalan-Jalan Aceh #2
Ternyata teman-teman yang lain juga kepingin mampir. Alhasil, ketika lokasinya mulai tampak dari jauh, kita pada norak semuanya. Kepingin buru-buru turun dari mobil.
Tempatnya sebenarnya sederhana. Hanya café kayu yang menghadap lembah pepohonan di bawahnya. Lokasinya tinggi, dari atas saya bisa jurang-jurang terjal.
Saya nggak tahu kenapa lokasi ini dinamakan Gunung Salak. Yang pasti saat tiba, saya sibuk keliling untuk pastiin beneran ada nggak pohon salak di sini. Nyatanya? Boro-boro, kagak ada! Pohon pinus lebih mendominasi dengan pohon hutan lainnya.
Serunya di lokasi ini ada ayunan. Saya tahunya saat naik ke atas melewati pijakan tangga yang terbentuk dari tanah keras. Kayu-kayu sederhana dijadikan pegangan. Di atasnya ada ranting-ranting kering melengkung membentuk terowongan.
Nah, di ujung sana ayunannya. Antara serem dan seru sebab ayunannya menghadap ke lembah. Kalau terlalu semangat waktu ayunan, yah, siap-siap bakal tersungkur ke dalam jurang. Mati deh…
Di samping ayunan juga ada jembatan kecil yang menghubung ke balkon mini. Balkon ini tersusun dari kayu. Dari atas sana, saya bisa melihat lebih luas pemandangan pegunungan. Di atas pegangan balkon, terdapat susunan huruf yang membentuk kata; RINDU ALAM.
Sempat heran, ini maksudnya apaan? RINDU ALAM @_@
Kenapa nggak RINDU yang lain. Rindu rumah kek, rindu ibu, rindu pulang, atau rindu Vety Vera kek, kakaknya Alam.
Terlepas dari rindu-rindu itu, Gunung Salak memang bagus. Tempatnya seru buat nongkrong. Dan ternyata, ada banyak café serupa yang berada di lintasan ini. Saya baru menyadarinya saat beranjak pergi. Café-café ini malah ada yang lebih keren lagi. Nggak heran kalau di sini jadi tempat wisata baru di Aceh. []