Sejak dibukanya Terusan Suez pada pertengahan abad ke 19 membuat lalu-lintas orang dan barang makin lancar antara Eropa dan Asia. Kapal-kapal laut dari Eropa yang sebelumnya harus memutari Afrika melewati Tanjung Harapan sekarang bisa memotong langsung dari Laut Mediterania ke Laut Merah dan menuju Asia. Hal ini menghemat waktu dan ongkos perjalanan dengan cukup signifikan.
Sejak itu pula jumlah orang-orang Eropa meningkat di Asia, termasuk orang Belanda di Indonesia. Ditambah lagi dengan ditemukannya kapal uap dan telegraf ikut melancarkan arus transportasi dan telekomunikasi, makin memperpendek jarak Eropa-Asia. Revolusi di bidang transportasi dan telekomunikasi tersebut mendorong meningkatnya arus modal, orang, dan barang antara Eropa dan Asia.
Meningkatnya orang Belanda di Indonesia menimbulkan persoalan tersendiri, karena rata-rata mereka semua adalah laki-laki. Hal ini bisa dipahami mengingat pada masa itu peran perempuan di luar wilayah domestik masih sangat minim. Pria-pria Belanda ini kesulitan mendatangkan wanita Belanda ke Indonesia untuk dinikahi karena ongkosnya mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang mampu.
Akibatnya banyak dari pria-pria Belanda tersebut yang melampiaskan kebutuhan seksualnya kepada budak-budak wanita pribumi. Sudah jamak pada masa itu orang Belanda memiliki beberapa budak untuk membantu kehidupannya, dari mulai memasak, mengasuh anak, membersihkan rumah, mengurus kuda, sampai untuk urusan ranjang. Tiap budak memiliki tugasnya masing-masing. Untuk yang cantik dan menjadi favorit tuannya bisa dijadikan nyai, yaitu wanita pribumi yang dikawini tanpa dinikahi.
Untuk pria Belanda kaya yang sanggup meminang gadis dari negerinya dan membawanya ke Indonesia, keberadaan budak-budak tersebut terasa lebih penting lagi. Karena biasanya para nyonya Belanda payah dalam mengurus rumah dan mengasuh anak, lebih sering berada dalam acara-acara sosialita kelas atas.
Walaupun perbudakan sudah dihapuskan oleh Belanda secara resmi pada tahun 1860, namun pada praktiknya masih berlangsung hingga abab ke 20.
Foto diatas memperlihatkan generasi anak-anak Belanda yang tumbuh dalam asuhan wanita Indonesia. Terlihat dua orang anak Belanda sedang bermain dengan ayam-ayam mereka dan seorang pengasuhnya dengan latar perkebunan teh. Mungkin ayahnya adalah pekerja atau pemilik perkebunan teh tersebut. Kemungkinan foto ini diambil tahun 1925 di daerah Jawa Barat.
Foto diatas sudah diedit dan diberi warna agak tampak lebih hidup, dibawah ini adalah foto aslinya dalam hitam-putih.
Foto: Hilbrander