Tidak ada pahlawan tanpa catatan buruk, begitu pun dengan Soekarno. Mungkin banyak yang tidak percaya bahwa Soekarno pernah menjadi 'bintang iklan' dan mempromosikan Romusha untuk menarik rakyat agar bergabung. Namun demikian lah kenyataannya.
Soekarno mengakui sendiri hal ini seperti diungkapkan dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams seperti yang saya kutip dari blog Roso Daras berikut ini.
Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Degn para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.
Menurut Soekarno ada dua jalan bagi Indonesia untuk bisa merdeka, yaitu dengan perjuangan fisik, dan dengan bekerjasama dengan Jepang. Soekarno memilih yang kedua. Ia dikritik dan dikecam habis-habisan oleh banyak pihak karena sikapnya dinilai menjual rakyat kepada Jepang. Tapi pilihan saat itu memang sulit, dan Soekarno harus memilih.
Pada masa menjelang kemerdekaan memang para pejuang kemerdekaan terbagi dua, ada yang menempuh jalan konfrontasi dan ada yang menmpuh jalan kooperasi dengan Jepang. Dan Soekarno memilih kooperasi. Soekarno dan Jepang saling memanfaatkan satu sama lain untuk kepentingan masing-masing. Kepentingan Jepang adalah memenangkan Perang Pasifik, sedangkan kepentingan Soekarno adalah memerdekakan Indonesia.
Pada akhirnya Indonesia memang mendapat beberapa keuntungan dengan kehadiran Jepang. Diantaranya adalah terbentuknya tentara semi-profesional yang nantinya berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Agresi Militer Belanda. Tentara bentukan Jepang ini pula yang nantinya menjadi cikal bakal TNI.
Foto: Gahetna