Struktur perekonomian Hindia Belanda memiliki ciri perekonomian ekstraktif, yang berarti perekonomian digerakkan oleh sektor-sektor yang melakukan kegiatan pengambilan dari alam (ekstraksi) seperti perkebunan dan pertambangan. Hal ini bisa dipahami karena perekonomiannya masih bersifat tradisional. Semakin maju suatu perekonomian akan makin meninggalkan sektor ekstraktif dan menuju ke perekonomian yang berbasis industri dan jasa.
Sejak dibukanya Terusan Suez (Suez Canal) pada pertengahan abad ke-19, jalur laut dari Eropa menuju Asia menjadi lebih pendek. Kapal-kapal dari Eropa tidak lagi harus memutari Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk menuju Asia. Terusan Suez memotong daratan menghubungkan Laut Mediterania di Eropa dengan Laut Merah di Asia. Akibatnya jarak dan waktu tempuh kapal-kapal laut menjadi lebih pendek, hal ini mendorong meningkatnya aliran modal dan manusia dari Eropa ke Asia. Begitu pula aliran modal dan manusia dari Belanda ke Eropa. Ditambah lagi dengan ditemukannya teknologi telegraf yang merevolusi industri telekomunikasi, berita dapat dikirimkan dengan cepat dari Eropa ke Asia.
Makin terhubungnya Eropa-Asia membuat meningkatnya aliran modal dan manusia, banyak perusahaan Belanda berinvestasi di Hndia Belanda, khusunya di sektor pertambangan dan perkebunan. Diantara komoditas perkebunan yang menjadi favorit dan harganya tinggi di pasar Eropa adalah kopi.
Foto diatas memperlihatkan aktivitas di sebuah perkebunan kopi di Jawa pada sekitar tahun 1900. Terlihat seorang mandor Belanda berbaju dan topi putih sedang mengawasi para pekerja perkebunan yang kebanyakan wanita Jawa.
Foto: Onnes Kurkdjian/Spaarnestad