Lama sudah tak memosting sesuatu di sini. Hari-hari lewat penuh sibuk meski kalau boleh jujur kerap sering merasa terkantuk-kantuk. Hari ini aku ingin bercerita kembali. Karena agak sedikit lambat dalam menulis, aku akan bercerita dengan hasil kamera gawaiku saja. Cerita foto kamera gawai maksudnya. Semoga cerita foto pertama ini bisa berlanjut pada yang kedua, ketiga, keempat sampai bilangan yang tak terhitung jumlahnya.
Pagi-pagi aku sudah cari kopi di kedai langganan. Kedai Kopi Chek Yukee, di ruas jalan pinggir Krueng Aceh, seberang kantor militer Kodam Iskandar Muda. Aku duduk di meja paling depan. Orang-orang belum ramai benar ketika aku tiba. Pagi berjalan dengan santun, sebagaimana santunnya air sungai yang meski tampak tak sebening biasanya. Seorang tukang parkir menyapu area parkirannya dengan tekun. Ia seorang tua murah senyum, tampak sudah agak ringkih, tapi punya semangat berlebih.
Aku memesan kopi. Segelas kopi dibawa pelayan tak lama setelahnya. Kusesap aroma kopi dari kepul asapnya, kucecap diseruputan pertama, dan: "Wahai, betapa murung pagi tanpa kopi. Aku minum kopi, tapi tentara di Kodam sana. Apakah mereka sempat minum kopi sepagi ini? Tentu sempat, kukira. Ini pagi damai. Negeri pun telah damai. Siapa saja sudah pasti bebas minum kopi kapan saja mereka mau."
Banyak juga aku mengoceh hanya untuk memosting cerita foto. Tapi tak apa. Hitung-hitung jadi pembuka atau sekadar caption dari rentetan foto yang kupunya. Maka, mari mereguk kopi dan simaklah foto-foto terlampir sesempat waktu yang kalian punya.