Kota Peunayong, buat warga Banda Aceh pasti tau donk. Peunayong dikenal sebagai kota tuanya Banda Aceh sekaligus menjadi pecinan atau kota Cina. Bila kita berkunjung ke kota ini maka ciri utamanya adalah pasar, bangunan-bangunan toko, sampah, lalu lalang kendaraan mulai dari sepeda motor, becak hingga truk intercooler. Hadeeuuh..kebayang deh macetnya kayak apa. Pokoknya tempat ini hanya sepi di tengah malam saja namun disinilah saya dibesarkan.
Kalau ada yang nanya; adakah tempat sejuk di kota tua Peunayoung ini? Jawaban saya, ada. Mesjid Al- Muttaqin, ini mesjid bagi para warga Peunayong. Sejuk karena mesjid adalah tempat ibadah yang dibangunan dengan sirkulasi yang besar. Sekilas mesjid di Aceh dimana saja terlihat tidak jauh berbeda, namun yang sedikit khusus dengan mesjid ini adalah dia berdiri di kota cina-nya Banda Aceh. Bukan cuma itu, saya dibesarkan di kota ini sehingga saya memiliki kedekatan dengan tempat ini. Kami menghabiskan malam untuk belajar mengaji disini.
Mesjid ini dibangun di atas lahan yang tidak luas sehingga dibangun dengan dua lantai. Lantai pertama untuk aktifitas ibadah dan lantai kedua untuk kegiatan seperti TPA serta sekretariat mesjid.
Meski mesjid ini tidak terlalu luas, mesjid ini menjadi begitu penting bagi para pelapak, pendagang serta semua pelaku pasar peunayong untuk beribadah dan beristirahat.
Saat matahari begitu teriknya, angin yang bebas masuk menjadikan seisi mesjid begitu sejuk bagi jemaat atau pengunjung.
Halaman depan mesjid terdapat sebuah pondok kayu berlantai dua ntuk menyimpan fasilitas mesjid lainnya.
Setelah tsunami mencabut semua pohon-pohon tua di area pertokoan ini, maka taman kecil mesjid menjadi satu-satunya pemandangan yang hijau di kawasan ini.
Thank you for visiting this blog.
I do appreciate your UPVOTE and RESTEEM as you like.