"How do I live without you, I want to know" hanya ini bagian yang aku ingat dari lagu yang berjudul How Do I Live dari LeAnn Rhymes. Entah mengapa, saat mendengar lagu ini memunculkan ide di kepala, bagaimana jika dikaitkan dengan keadaan Indonesia tanpa sawah, bagaimana jika setiap inci lahan sawah di Indonesia berubah arah menjadi bangunan tinggi menjulang ? Kelaparankah yang akan didapat atau bergantikah nanti makanan pokok di negeri ini ? Terpenting adalah bagaimana kehidupan para petani nanti jika tidak lagi memiliki sawah ?
Setiap foto bercerita, benar. Namun materi yang kujadikan sebagai objek adalah sawah dan pemandangan paginya dalam sebuah #landscapephotograpy, ide itu sedari awal telah aku dapatkan saat melihat awan rendah di dekat perbukitan itu. Indah memang, namun saat kuturunkan pandangan, ide Pak Tani, Sawah Ladang, Gedung, Jalan dan sebagai datang bergerombol di kepalaku.
Ya ini menyangkut Pak Tani, kehidupan dan sawahnya. Bukan tanpa alasan namun inilah kenyataan yang ada di depan mata. Kasus Tol di Yogyakarta seolah mengingatkan kita bahwa petani tidak pernah menolak kehidupan modern, namun mereka mempunyai loyalitas untuk mempertahankan salah satu identitas penduduk di negeri ini, Ya, pertanian. Mereka sadar bahwa pertanian telah mengantarkan perut-perut penduduk negeri dari tangan-tangan mereka dari hasil jerih keringat mereka. Mereka yakin bahwa semen, besi dan batu tidak akan mampu mengantarkan kenyang dalam perut.
Sengketa perusahaan dengan para petani makin menjadi, kala kekuasaan merajalela menghantam ketidakberdayaan mereka dengan kata *hitam di atas putih, kamu bersertifikat aku melarat sudah semakin lumrah. Adakah pembelaan untuk mereka ? banyak, namun yang membela hanya datang saat pemilu hampir tiba. Dimana mereka saat sebelum membela dan setelah bersuara, mereka hidup dalam sejuknya udara buatan, mereka bersenda ria dengan kekuasaan dan menanti siklus pencitraan.
Banyak petani hanya bisa mendendangkan irama kopi dangdut yang ceria hanya sekedar membuat hati dan hari mereka terlihat bahagia, bukan karena mereka bodoh, juga bukan karena mereka tak mampu, namun mereka mencari kenyamanan dalam bekerja dan malas bersengketa. Mereka tak mau jiwa mereka menjadi kotor karena ada tawaran sengketa bagi si pembela dan penyuka hukum beracara.
Namun layakkah mereka tidak mendapatkan porsi sebagai rakyat jelata ? Pantaskah negara abai akan keberadaan mereka ? sejauh mana kita telah berupaya untuk mereka ? atau setidaknya suaramu kamu pakai untuk berteriak jangan pernah kau usik mereka..!!
[All Pictures taken original by me]
[Camera maker : Canon EOS 800D]
[Date taken : November 5, 2018]
[Location : Gle Putoh Village, Aceh Jaya, Indonesai]
[Author :
]
For Spirit on Community, please Join Discord below
eSteem Discord
Steemit Indonesian Community Discord
Arteem discord
Silentzen Discord
Sevenfingers discord
Curation Collective Discord
Qurator Discord
Curie Discord
Vote for Witness
Vote for Witness
Vote for Witness
Vote for Witness