, Sakapol masuk ke kampung orang. Dia bingung harus bertahan di posisi mana, antara menjadi fotografer berkelas (tingkat kota) atau sebagai fotografer desa. Dua pilihan dalam satu keputusan.
Akhirnya, dengan fasilitas yang serba kekurangan, Sakapol mengurungkan niatnya menjadi fotografer perkotaan. Sakapol mulai berpetualang di dunia fotografi tingkat desa. Apa saja difotonya, guna menghasilkan gambar yang bernilai seni. Sakapol memotret kadang ayam warga, mengabadikan panci berkarat, memotret daun dan bunga-bunga yang tumbuh dalam semak-belukar dengan menggunakan kamera Samsung Grand Duos.
Ketika berada dalam semak belukar desa, Sakapol berhasil memotret sisi pohon yang tumbang. Mirip mata gajah yang lanjut usia, pikirnya. Kemudian Sakapol melanjutkan untuk mengambil gambar segenang air yang berada di dalam pokok kayu yang sama.
Waktu itu, Sakapol benar-benar menikmati sisi lain dari sebatang pohon yang tumbang. Secara langsung dia melakukan pengamatan intensif terhadap pokok tersebut. Sakapol menemukan sebuah kehidupan di dalam genangan air itu.
, dua bulan kemudian fotonya tentang 'mata gajah lansia' terpilih sebagai juara terbaik satu. Kepala desa merasa senang, beliau telah berhasil mengadakan lomba fotografi tingkat desa. Semoga saja di balik kegiatan lomba tersebut, tidak tersirat unsur politik. Hehe