Keadaan alam kadang menjadi penghalang dalam usaha tani. Pada sisi lain, hal ini melahirkan siasat adaptasi.
Salah satunya di kawasan rawa lebak di Sumatera Selatan. Para petani di ekosistem rawa lebak berhadapan dengan musim tergenang lebih panjang ketimbang musim kering. Kapan musim kering akan terjadi pun sangat sukar ditebak. Lebih-lebih pada masa sekarang, ketika perubahan iklim global bukan lagi mitos sains.
Padahal, penanaman padi hanya berpeluang pada musim air rawa surut hingga datangnya musim kering. Peluangnya sangat singkat. Sekitar 3 bulan. Masa yang lebih singkat ketimpang umur tanaman padi jenis lokal.
Maka lahirlah siasat. Sebuah teknik pertanian adaptif berbasis kearifan tradisional. Siasat agar dapat menanam padi seawal mungkin. Dengan demikian fase reproduktif tanaman padi terhindar dari kondisi kurang air. Teknik pertanian adaptif ini berupa pertanian terapung untuk pesemaian padi.
Bulan-bulan begini, sekitar Mei dan Juni, saat air di rawa masih setinggi pinggang orang dewasa, petani di kawasan pasang surut Sumatera Selatan, misalnya di Desa Kuro dan Bangsal Kecamatan Pampangan Kabupaten OKI akan mencari brondong.
Ya, Brondong. Nama sejenis tanaman rumput berukuran besar.
Aktifitas selanjutnya, para lelaki maupun perempuan menjalin brondong dengan tali dari akar satu jenis tumbuhan. Jalinan brondong menjadi sebentuk lembaran tikar yang dapat mengapung di air.
Jalinan brondong berfungsi sebagai rakit. Di atas rakit kemudian ditebar dengan hidrilla, salah satu jenis tumbuhan air. Di atasnya ditebar lagi dengan lumpur dari dasar rawa, atau proses pelumpuran.
Benih-benih padi kemudian disemai di atas lumpur. Tumbuh ia jadi anakan. Sesungguhnya, ini sebuah teknik pertanian hidroponik tradisional khas Indonesia.
Selang sebulan, tatkala air rawa telah surut, anakan padi dapat dipindah ke sawah.
Begitulah alam mengajari petani untuk beradaptasi.