MAKMEUGANG SALAH SATU TRADISI ADAT RELIGI DI ACEH.
Makmeugang atau Meugang yang selama ini di lakukan di Aceh adalah salah satu Tradisi religi yang dilaksanakan sebelum puasa ramadhan dan merupakan tanda masyarakat Aceh untuk selalu mensyukuri akan datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah tiap tahun. Juga Makmeugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh masyarakat Aceh menunaikan ibadah puasa untuk menyucikan diri pada bulan Ramadhan.
Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih kepada Allah SWT karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan perintah agama untuk berqurban dan membagi-bagikan kepada Fakir Miskin dan anak yatim.
Foto di bawah ini kegiatan kami Partai Aceh melaksanakan tradisi membagi-bagi Sie Makmeugan yang dilakukan pada Selasa tanggal 15 Mei 2018 kemarin di salah satu rumah warga Partai Aceh. Makmeugang merupakan nilai religi yang sangat sederhana yang dilakukan oleh masyarakat Aceh saat ini.
Dengan merayakan tradisi meugang dengan cara ramai-ramai membeli daging pada pedagang ataupun membeli lembu dengan cara mengumpulkan uang dalam satu kelompok masyarakat dengan jumlah anggota kelompok disesuaikan dengan kempampuan anggaran anggota untuk membeli seekor sapi yang akan disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan sesuai dengan jumlah daging lembu yang dikumpulkan per bungkus setelah dilakukan pendataan siapa saja yang berhak mendapatkan daging lembu tersebu.
Tradisi makmeugang adalah tradisi makan daging lembu pada hari makmeugang dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Aceh baik itu masyarakat bepenghasilan rendah maupun masyarakat mampu, karena bagi masyarakat aceh merayakan hari makmeugang itu bukan hal yang perlu diperhitungkan dari segi biaya karena mareka punya keyakinan ataupun istilahnya merayakan makmeugang adalah hari pertama sebelum melakukan ibadah puasa makan enak dulu setelah setahun bekerja (sithon tamita siuro tapajoh).
Seperti foto dibawah ini, lagi proses pendataan sebelum daging lembunya dibagi-bagikan untuk anak yatim dan fakir miskin. Dalam tradisi ini pada hari makmeugang, jika ada warga miskin yang tidak sanggup membeli daging lembu, biasanya daging lembu yang akan diberikan oleh sekelompok orang mampu atau orang kaya kepada orang fakir miskin dan anak yatim. Tradisi makmeugang di Aceh sebenarnya memiliki nilai religi, hal ini dikarenakan makmeugang selalu digelar pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam, misalnya seperti menyambut bulan suci ramadhan, dimana masyarakat Aceh akan mencurahkan segala kegembiraannya dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan menggelar acara hari makmeugang.
Dari data dan berbagai sumber sejarah, bahwa disebutkan bahwa hari makmeugang pertama kali muncul pada abad ke 14 masehi yaitu seiring pengembangan ajaran Islam di Aceh, namun tradisi tersebut diperkirakan tidak meluas ke seluruh Aceh, kemudian pada abad ke-16 Masehi, Yakni pada masa pemerintahan kejayaan Raja Aceh Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607 M. Ide dan gagasan makmeugang ini dicetuskan oleh Sultan Iskandar Muda agar supaya dilakukan sebuah tradisi di kerajaan untuk kegiatan dalam masyarakat dalam membantu masyarakat miskin dan anak yatim ke semua wilayah kekuasaan kerajaan Aceh.