Pada awan yang kerap lengah menyimpan butiran uap, ia gagal menumpahkan hujan. Tentang purnama yang sejatinya benderang, namun gelagapan disaput mendung. Aku hanya membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Percuma memaksa.
Seperti perjalanan tanpa tujuan, mencari bulir berharga pada hatimu adalah kerancuan yang ambigu. Menganga keraguan yang besar di antaranya. Antara iya dan tidak, ada dan tiada.
Sudah pernah kau ungkap? Aku saja yang sudi bersabar menyingkap. Cucuran peluh karena lelah seringkali tiada pernah kentara.
Namun tentu saja melepasmu tak kunjung ada dalam selipan doa. Kau satu-satunya yang merangkum rasa berbalur cinta.
Dalam-dalam kututupi dan sehelaan napas saja kau singkap. Caramu membaluri pandangan dalam tatap, kedipan mata dan gerak, begitu mudah meluruh tembok raksasa di hatiku.
Tapi di mana kini tanggung jawab selaksa rasa yang telah bercokol. Menghunjam dalam alunan makna tersembunyi. Barangkali perlu menunggu senja meranum dan arakan mega bertukar gelegar kilat.
Lalu pintu-pintu langit membuka.
Atau menanti angin yang mengantarmu tiba.