"Ideal" tak mengenal kata "percuma"
Lumrah, ketika mulut berujar "tak ada yang sia-sia"
Ya..
Pada tiap perjuangan, hasil menanti
Pada tiap perjalanan, harap tertuang
Pada tiap pengorbanan, indah dimaui
Namun lain cerita
Ketika jalan memberi pilihan, memaksa menguras fikiran
Ah.. simpang ini terlalu mencekam
Terlampau bercabang dan berbelit
Menghimpit..
Aku masihlah aku
Sendiri tak berkubu
Satu tak berjumlah
Cuma aku saja
Lantas mengapa lorong-lorong itu menyerbu?
Mengapa jalan ini tak lagi satu?
Kenapa mereka membelah menjadi bagian-bagian yang tak begitu kupahami?
Beginikah bagian dari pendewasaan diri?
Ah.. terlalu problematis!
Diri hanya ingin mencari kebenaran
Atas apa yang umumnya berlaku
Ingin membuktikan
Bahwa apa yang dikatakan benar adanya
"Tak ada yang sia-sia"
"Tak ada kata percuma"
Bukankah begitu?
Jika, proses terlalu kejam
Memberi pilihan tanpa acuan
Dan membentuk simpang-simpang congkak penuh rayuan
Akankah penasaran ini berlabuh pada jalan yang tepat?
Entahlah
Sampai detik inipun
Kaki masih terpaku
Meratapi cabang-cabang itu
Mereka tak berujung
Hanya gelap, tak berwujud
Sama sekali tak mendukung
Memandanginya hanya semakin kalut
Ya..
Aku masih di sini
Diam sendiri
Tercenung di pangkal simpang
Dengan penuh kebimbangan~
Lhokseumawe, 14 November 2017