Kuhargai lesung pipimu yang berisi airmata
Karena aku tak melukis senja
apa yang kau bisikkan malam kemarin
Tidak pensil patah
Namun dalam hal ini bayang-bayang
hening yang menyelubung
menyala di tingkah awan...
Darahmu getarkan nadiku
masih tajam kurasakan
maafkan, aku meminangmu secawan darah merpati
menirdurkan digulungan jerami
sederet intan di dasar laut
belum bisa kuselami
sebatas gandum yang tercabut di tapak tangan
hanya mampu kuhadirkan di meja bundar itu.....
Tulangku yang karat
mungkin tanpa setitik harapan
tapi ketahuilah dik, cintamu adalah azimatku
getir helai-helai rindu
selalu bertolak ke pangkuanmu
dan manakala font di saku celana
namamu, selalu ikut
kerap kali harum setiap sujudmu
kurindukan dalam peperangan.....
Aku selalu berharap
esok hari akan kujinakkan
dengan kegelumit semangat
untuk mengalungkan senja padamu....