menatap langit siang kotaku,
hanya kabut putih, serupa awan-awan sirrus berarak pelan dihembus angin semilir
hampir tanpa pola, kelabu tak bercahaya.
di sisi lain kotaku
carut- marut kenderaan
saling silang menyilang
di atas aspal-aspal panas,
dahulu-mendahui,
ditingkahi suara klakson-klakson mobil yang sambung-menyambung begitu bising memekakkan telinga.
sementara di trotoar jalan
diantara kaki batang-batang
beton menjulang,
para pedagang asongan berderet, berdesakkan, berlomba mendekati badan jalan hendak menjaja nyawa
dan aku masih berdiri memandangi
kabut putih diatas kota ku,
seperti kafan putih menunggu datangnya kematian.
***