
I saw the painting with Borobudur's feet when the sun tried to shed the dew which was still tingling at the end of the grass. Beautiful paintings from the past that have been scratched on memories.
Then the birth of this poem. Not an inspiring Borobudur, but a painting created to be enjoyed with love in a skull.
This poem was published in Basabasi.

Magma Relief
Like a message carved in your ribs
I read the sign that emanated from the red of your lips
when the peak of the stupa is at the end of the foot
Your curves are perfect under the sun
the magma exploded,
became tears on the first morning
and be asked at the end of the evening.
Yogyakarta, November 2018

Aku melihat lukisan di bawa kaki Borobudur tatkala matahari berusaha merontokkan embun-embun yang masih gelayutan di ujung rerumputan. Lukisan indah dari masa lalu yang pernah tergores di atas kanvas kenangan.
Lalu lahirnya puisi ini. Bukan Borobudur yang menginspirasi, melainkan lukisan yang tercipta untuk dinikmati dengan cinta dalam batok kepala.
Puisi ini pernah ditayang di basabasi.
Magma Relief
Seperti pesan yang terpahat di tulang rusukmu
aku membaca tanda yang memancar dari merah bibirmu
ketika puncak stupa berada di ujung kaki
lekukmu sempurna di bawah matahari
magma pun meledak,
menjadi air mata pada pagi pertama
dan menjadi tanya di akhir senja.
Yogyakarta, November 2018