Nama Kyai Haji Mustofa Bisri tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga seorang penyair sufi. Beliau akrab dengan isu-isu sosial politik, tetapi mengambil jarak dengan kekuasaan.
Ketika menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara XI di Kudus, Jawa Tengah, 28 - 30 Juni 2019, saya beruntung bisa menyaksikan Gus Mus—panggilan akrab Mustofa Bisri—membaca puisi. Saya melihat betapa masyarakat di sana sangat menghormati dan mengagumi Gus Mus.
Gus Mus mendapat giliran setelah Penyair dari Madura, Zawawi Imron membaca puisi di Menara Kudus. “Berbeda dengan Zawawi yang dibatasi waktunya, panitia tidak mengatakan apa pun tentang waktu untuk saya. Kebetulan malam ini saya akan membaca 18 puisi!”
Penonton tertawa. Tentu saja Gus Mus bercanda. Tidak ada 18 puisi yang dibacakannya, meski hadirin tidak akan bosan seandainya Gus Mus benar-benar akan membaca 18 puisi.
Ketika menyelesaikan dua atau tiga puisi, Gus Mus turun dari panggung. Sosiawan Leak, seorang penyair yang juga kurator puisi di even PPN XI, sontak bangun dan hendak membantu Gus Mus turun dari panggung.
“Ini belum berakhir. Kan tadi sudah saya bilang 18 puisi,” sahut Gus Mus yang membuat hadirin kembali tertawa. Lalu Gus Mus membaca puisi sambil duduk di anak tangga.