Until when we reflect on a pool of blood,
braiding knots into beautiful paintings
When do you long for flowering
without having to wait for the earth to stretch,
and oceans docked in settlements
land rolls swallow the house
floods drain tears not left
the fire burned to the roofs
the car plunges into the ravine and rises with the dugout
the plane landed at the peak of memories
then burn it to grief
starvation hit the party field
shipwrecks and nameless tombstones
upright on the ocean floor
the war never subsided
weapons don't have eyes
the trigger was blind
it won't break without blood
love doesn't come
uninvited flying souls
love disappears without pain
the hands will not be stretched out without whipping
tears just spilled over for overwhelming suffering
Without all disasters
all tastes seemed to disappear
Without all disasters
all prayers are broken
Without all disasters
God seems to be gone
Lhokseumawe, January 2019
Puisi saya ini dimuat dalam antologi puisi Sesapa Mesra Sselinting Cinta 2019:
Ayi Jufridar:
Tumbal Rasa
Sampai kapan kita bercermin pada genangan darah,
menjalin simpul menjadi lukisan indah
Sampai kapan kerinduan berbunga
tanpa harus menunggu bumi menggeliat,
dan samudra merapat ke pemukiman
gulungan tanah menelan rumah
banjir menguras air mata tak bersisa
api membara hingga ke atap-atapnya
mobil terjun ke jurang dan naik bersama keranda
pesawat mendarat di puncak kenangan
lalu membakarnya menjadi duka
kelaparan melanda di ladang pesta
kapal-kapal karam dan batu nisan tanpa nama
tegak di dasar samudra
perang tak pernah reda
senjata tak punya mata hati
pelatuknya pun sudah buta
gundah takkan membuncah tanpa darah
kasih sayang tak kunjung datang
tanpa diundang jiwa-jiwa terbang
kasih menghilang tanpa perih hati
tangan pun takkan terulur tanpa dera
air mata hanya tumpah untuk derita melimpah
Tanpa semua bencana
semua rasa seolah sirna
Tanpa semua bencana
semua doa terbata
Tanpa semua bencana
Tuhan seolah tiada
Lhokseumawe, Januari 2019
