Writing poetry does not need to be difficult so it becomes a burden, especially when just starting it. Various theories sometimes become obstacles to motivation in writing poetry. Many prospective writers stop, because they are bullied by people who feel they are more qualified.
If we read a poem by Sapardi Djoko Damono, we will find simple diction, one of them as we find in the poem "Like the Fog" below. No complicated diction, or language that wants to give a great impression.
In an interview, Sapardi even reminded prospective poets not to seek meaning or idioms behind diction. Poetry just to be enjoyed, he said. Maybe that's why we really enjoy a song in English or Spanish even though we don't know the meaning. []
Lorong Asa, April 2, 2019
Sapardi Djoko Damono:
LIKE A FOG
I will love you
like fog
which disappeared in the sun
:
I will incarnate clouds
carefully climb the hill
so you can rain you
:
on a good day later
Kesederhanaan Diksi Dalam Puisi
Menulis puisi tidak perlu bersulit-sulit sehingga menjadi beban, apalagi ketika baru memulainya. Berbagai teori kadang menjadi penghambat motivasi dalam menulis puisi. Banyak calon penulis yang berhenti, karena di-bully oleh orang yang merasa dirinya lebih berkualitas.
Kalau kita membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono, kita akan menemukan diksi-diksi yang sederhana, salah satunya seperti yang kita temukan dalam puisi “Seperti Kabut” di bawah ini. Tidak ada diksi yang rumit-rumit, atau bahasa yang ingin memberi kesan hebat.
Dalam sebuah wawancara, Sapardi bahkan mengingatkan calon penyair agar tidak perlu mencari makna atau idiom di balik diksi. Puisi untuk dinikmati saja, katanya. Barangkali itulah mengapa kita sangat menikmati sebuah lagu dalam bahasa Inggris atau Spanyol meski kita tidak tahu artinya.[]
Lorong Asa, 2 April 2019*
Sapardi Djoko Damono:
SEPERTI KABUT
aku akan menyayangimu
seperti kabut
yang raib di cahaya matahari
:
aku akan menjelma awan
hati-hati mendaki bukit
agar bisa menghujanimu
:
pada suatu hari baik nanti