Membutuhkan mu, ku akui,
Mengharapkan mu, juga ku akui,
Tapi bukan berarti aku harus merendah didahap mu,
Bersimpuh di kaki mu, hingga aku menjadi orang yang tidak punya harga diri.
Cinta itu memang buta, juga tidak ada logika, karena menganggap lumrah yang tidak diterima akal, yang dia tahu hanya indah dan bahagia. Tapi bukan berarti menutup pikiran waras ku, sampai saat ini aku masih tahu mana cinta buta dan mana martabat manusia.
Sudahlah, biarkan cinta kita tetap semu, karena disana dia pantas untuk menyatu. Tidak mungkin di alam ini, karena cinta nyata membutuhkan harkat dan martabat.
Salam mewakili rasa, takzim mengakui cinta.