Antara Aku, Nietzsche dan Anakku
(sore di ruang baca keluarga -
“siapa ini?”, anakku bertanya
sambil tangannya menunjuk gambar pada sampul buku yang tengah kubaca,
dan tangannya sendiri
memegang buku pelajaran bahasa kelas 2 SD)
anakku,
orang ini yang tinggal di perpustakaan tua
yang melarang kita meminjam buku-bukunya
orang ini yang lalu mati sebagai orang gila
yang tak diratapi oleh siapa pun
orang ini yang berteriak bahwa dirinya adalah superman
yang tak bisa mampu bangga atas dirinya sendiri
orang ini yang lalu gagal mengajak Tuhan berkelahi
ya, anakku
orang ini berkata dia miliki kehendak berkuasa
tapi percayalah,
itu hanya sebatas kemampuannya pelihara kumisnya yang lebat
sambil dia sia-sia bertapa menulis puisi di atas bukit
lalu berkata tentang sabda-sabda nabi-nabi palsu
yang bahkan hanya pernah hidup dalam dongeng-dongeng menggelikan
tidak, anakku
telah kuletakkan orang ini di papan teratas rak buku kita
tak kubiarkan dirimu mengenalnya kini
sampai kau tak perlu memanjat kursi lagi untuk menggapainya
tidak, anakku
kau pun tak boleh membunuh orang untuk menulis puisi
seperti orang ini
tapi kau harus seperti Sokrates, Isa dan Muhammad
yang lebih memilih menghidupkan manusia