Di Beranda, Upacara Hujan
jika hujan mulai turun dan debuan akan berteriak menolak untuk pergi
dari tiap daunan dan kelopak bunga
saat itu aku akan menuntun banyak khayal di beranda rumah
mengabarkan luka
juga tawa
ke ujung selokan lalu tiba
untuk tiba, pada catatan usia demi usia
tak pernah kita memesan kebimbangan
walau garis hujan miring menerpa lengan kursi
lantai basah pun jadi cermin
membayangkan langit-langit dan ujung kaki
“hujan ini hanyalah semacam kenduri untuk memastikan
orang-orang berlari di jalan raya
mengembangkan payung atau bertudung koran pagi
menuju beranda lalu tiba
untuk tiba, pada catatan usia demi usia”
begitulah
bagaimana hujan mengakhiri hari di kota ini
karena jika pun reda, akan ada senja. malam
lalu kita bersijingkat di atas genangan menutup pintu pagar
kepahiang, 24 november 2014
Dari Antologi "Tak Ada Persimpangan Di Lautan" (Emong Soewandi)
Pic: private collection
Taken by : Canon EOS 100D
location: my home, Kepahiang, Bengkulu - Indonesia