Masih ingatkah kau dengan sebuah peristiwa memilukan menimpa seorang gadis cilik Indonesia, April 2016 lalu. Tolong, jangan lupakan! Biarpun doa-doa mungkin telah menjadi sekedar bisik-bisikan, juga tak ada lagi seribu lilin dinyalakan buat dia, tapi sekali-kali jangan lupakan dia dan semua kepedihan kisah itu.
Seorang Ibu dengan Selembar Baju Coklat Muda
- yy -
tak perlu lagi mencari berita
selembar baju coklat muda
dan air mata seorang ibu telah cukup berkisah sejuta pedih
ia duduk di atas badai,
yang kemarin petang telah mengaramkan sebentuk tawa.
kini tak ada lagi, sebagai nestapa merobek dada
sebagai udara luka yang hari demi hari akan selalu diisap
takdirkah ini, kematian tak cukup lagi hanya dengan tangisan
maut telah tiba begitu terlambat, karena sahutan bumi tercekat memanggil
haruskah begitu sakit, sedang derita rahim pun hanya sekedar embun?
tapi tak ada matahari yang akan membakar embun daunan pakis,
tubuh itu telah dingin. malam-malam beku,
seperti sangat ingin tak mau bertemu siang lagi.
tubuh itu embun, dari tiap porinya adalah air mata
angkara membungkam mulutnya,
hanya hatinya yang mampu memanggil ibu
anakku, jeritanmu adalah jeritanku memanggil kau bermalam-malam!
kau yang pulang tak yang pulang lagi
anakku, itukah deritamu!
telah padam hari-hariku, telah terban bumi tempat berpijak
karam tawaku,
usiaku sembilu karena waktu dan waktu adalah dirimu
kepahiang, 01 juli 2016