Kutukan Si Pahitlidah
perjumpaanku dengan sungai musi adalah perjanjian purba,
kami akan tanam enau
agar si mataempat dapat membunuh si pahitlidah.
orang-orang yang mengikuti arus sejarah pastilah sadar
jika yang halangi gerak air adalah bebatuan yang terkutuk.
barangkali saja, di dasar dangkal yang bening
kaki kita sebenarnya sedang memijak tubuh seorang gadis
berselendang biru.
yang tak pernah mendengar lagi lagu ratap ibu memanggil pulang.
sedangkan lelaki, pengantin yang urung,
muram mengusap bilah kerisnya,
bibirnya telah kelu untuk bisikkan serapah
hari-hari di mana puisi muram di langit yang gelisah.
seorang lelaki membakar jagung di bara unggun kepedihannya.
ini akan jadi makan malam terakhir,
karena tambo tak lagi berikan tempat dan jika dia mati
maka di sanalah sepokok enau yang aku tanam akan
berbuah tandan-tandan dendam
gamelan beku. membatu bersama penari
sempat kupungut selendang biru yang tersangkut
di tiang titian gantung. mungkin seribu tahun telah hanyut
tak mampu gapai tepian.
mungkin seribu tahun
pesan tercabik-cabik di dinding sampan nelayan tua
haruskah menunggu si pahitlidah bosan mengutuk,
karena sang bunda tak pernah mau hamilkan si mataempat
enau itu masih muda, sedang perjumpaanku dengan
sungai musi telah jadi janji yang purba
kami pun sepakat untuk saling ingkar
kepahiang, 26 november 2017**
Situs Purbakala Menhir "Keris" Keban Agung, Kepahiang, Bengkulu
(Private Collection)
Steemit Chapter Bengkulu