Lelah Jadi Manusia
Sumber
Dunia ini fana, begitu juga seluruh makhluk hidupnya. Lantas tuhan meminta untuk tinggal sementara serta-merta menitip pesan untuk mengais pahala.
Namun, kadang kala para insan lupa siapa mereka, lantas menghakimi satu sama lainnya, dan membuat tuhan kecewa.
Tuhan murka, dan menurunkan bencana, namun para insan malah menuntut sang kuasa, tanpa sadar kehilangan janjinya.
Dengan tuhan saja mereka menghakimi, bagaimana dengan sesama?
Berdiam diri diteriaki "Ah! Dasar apatis! Apa kontribusimu terhadap bangsa ini?"
Menyalur opini ditentangi. "Dasar keras kepala, pendapatmu tidak berdasar, dan untuk apa kau ikut campur?"
Meluruskan perkara di jauhi. "hal apa yang membuatmu membela kelompok yang dirundung perkara itu?"
Lucu melihat para insan ini menentangi satu sama lain, lantas menciptakan perang tanpa disadari, saling meneriakki, "Dimana jiwa persatuan kalian untuk bangsa ini?" namun sendirinya mencoba menghasut insan lain, lantas menjadi seorang munafik sejati.
Ironis, saat orang-orang melemparkan sarkas, nasihat, serta aspirasi. Namun dianggap anomali, lantas merasakan dinginnya jeruji.
Perang dunia memang sudah berakhir, lantas timbul perang baru yang jauh lebih berbahaya,
Saudara sendiri.