###
Di tepian ku susuri,
melangit asap meninggi
dari tersemat lintingan tembakau
di jari-jari ku.
Sambil sesekali melirik,
bunga-bunga di tepi jalan
yang mereka tak bertuan
namun mereka ber-Tuhan.
Berlahan deru langkah ku terkunci.
Lirikan-lirikan mata ku pun terhenti.
Memandang skenario malam dunia
dari kendaraan berdesah bersuara.
Bunga di tepian menghadap mereka,
menggoda. Naiklah rasa.
Hasrat-hasrat nafsu membara.
Kotor. Begitulah fakta kata mereka
meski nilai di ujung mata.
Begitu akrab hitam noda-noda
dari udara debu kota,
menghapus sisi-sisi
keindahannya yang mulai tak tampak lagi.
Otak, mata dan hati,
mati.
Jika saja aku dapat mendengar
suara-suara nyata
dibalik semu malam itu.
Maka, laksana air langsung
membasuh ujung kepala
hingga kakiku.
Sirnah dunia sewaktu.
Bunga di tepi jalan.
Kau menarik,
menebar semerbak,
wangi-wangian menawan. Pelik.
Hadirmu, diharapkan.
namun keberadaanmu, diacuhkan
Kau tak bertuan
namun kau milik Tuhan.
Lamprit, Banda Aceh
14 Januari 2018