lagu-lagu penyanyi lawas itu menyerbu
hingga tulang-tulangku:
kau seperti memutar waktu,
“mari kita bertamasya,” katamu.
Dalam rambut kian perak, aku tak tahu
bagaimana merayakan waktu:
mengenangmu!
Mengenangmu!
Kau berangkat jauh
bersama kapal Nuh
Desember itu,
Desember itu.
aku mencatat semua nama,
semua tanda,
semua kata,
juga bau mesiu
juga tangisanmu:
perempuan kehilangan selendang
ditilep lelaki jalang
anak-anak kehilangan bintang
dipatuk mulut elang
dan kau kehilangan aku
lagu-lagu penyanyi lawas itu
menyeret kita
pada lubang-lubang waktu
yang dulu membunuhmu
Aceh 2014/Depok 2016
MUSTAFA ISMAIL