Kata mereka cemburu tanda cinta, sekarang aku mulai menghilangkan rasa itu, bukan rasa cinta melainkan rasa cemburu. Apa itu artinya aku sudah tidak cinta? Bukan! Aku mencintaimu melalui rasa percaya. Karena percaya adalah cara mengharmoniskan rasa.
Sudah setengah tahun aku tidak lagi menatap manik matamu yang meneduhkan. Genggamanmu seakan tak lagi mampu menebas dinginnya hujan. Jarak selalu menjadi alasan, layaknya sekat yang menjadi batasan. Kau selalu bertanya apakah aku tak merindu? Apakah aku tak cemburu? Ya! Terkadang aku pernah sejalan dengan pemikiranmu. Membahas tentang rindu atau cemburu. Bahkan aku pernah berpikir mungkinkah kau ... Aaah, sudahlah. sepertinya percaya jauh lebih menentramkan. Acapkali kalimat tanya itu terbesit di kepala. Lagi lagi aku menepisnya. Aku menghilangkan rasa cemburu namun tidak untuk perihal rindu. Aku masih merindu, masih mencandui hangatnya candamu, masih merindu di beranda sendu. Aku tidak ingin membunuh rasa karena asa yang tak tentu, aku tidak ingin menebas rindu hanya perihal cemburu. Biarlah aku menghilangkan cemburu tanpa menghilangkan rasa rindu. Biarkan aku mencinta tanpa harus mengorbankan rasa. Aku mencoba setenang mungkin menghadapi rasa, mengikuti harmoni cinta lalu memantapkan hati untuk percaya.
Percaya padamu, percaya pada apa yang telah tertulis untukku.
Salam hangat untukmu yang tak tersentuh netra.