Gugur Terbayang
Re-Kun
Dan bunga layu pun berguguran
Setelah menguning menjadi kecoklatan
Jatuh lebur atau tertiup angin menyepah jalan
Yang pasti hilang terlupakan
Tetapi zahirnya tetap tersimpan sampai penghabisan
Sama seperti lalu yang masih terus terbayang
Siang malam, kadang seharian
Tidak henti usik kehidupan
Yang usang dan tanpa arah tujuan
Lampung, 06-01-17
Lelah Ingin Terbaring
Re-Kun
Selang setaman di pinggir bendungan
Lewati setapak di bawah mendung tiada berujung
Jelang siang yang tampak bagai malam
Masih dipaksa berjuang, walau letih ingin pembaringan
Terus berlanjut tak jelas juntrungan
Mungkin kematian yang akan jadi penentuan
Yang juga entah kapan akan datang
Lampung, 06-01-17
Pertemuan Keabadian
Re-Kun
Ada yang bilang hilang
Terhapus dari fana kehidupan
Tapi jelas kau bukan bayang-bayang
Karena masih jelas penampakan
Walau sayu pelupuk mata terkembang
Masih cantik seperti dulu pertama berpandangan
Tetap merekah bibir merah dihiasi manja sanyuman
Jelas tercium semerbak wangi badan sang idaman
Sekarang aku tahu waktunya pertemuan
Dengan Yang Maha Penguasa Kehidupan
Dihapuskan dari fana perjalanan
Sebelum kita disatukan dalam kekal keabadian
Lampung, 06-01-17
Di Lembah Antah Berantah
Re-Kun
Menjelang pagi di lembah antah berantah
Saat rerumputan masih basah
Oleh embun sebelum cerah
Sewaktu mentari masih bersinar secercah
Begitu benak kembali diusik gelisah
Tiada lain selain resah
Hanya menyisakan banyak gundah
Lalu bolehkah aku bertanya, Wahai Sang Maha?
Untuk apa semua rasa Kau cipta?
Jika hanya berakhir tak tentu arah?
Lampung, 06-01-17
Sundal Pecundang
Re-Kun
Dihempas gelombang arus pasang
Di kelam berkelip bintang
Saat nelayan menjaring ikan
Terombang-ambing dimainkan kehendak alam
Si jiwa tersesat tanpa pegangan
Lepas tangan tiada jurusan
Biarkan waktu menyeret ke mana tujuan
Berakhir tersesat di binal kehidupan
Jadi jalang bercap sundal pecundang
Sebelum mati menjadi penghuni jahanam
Lampung, 06-01-17
Kumpulan puisi ini pernah diposting sebelumnya di sini