Ibu Indonesia
Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illah
Nafas doanya berpadu cipta (sumber)
Tulisan ini hanya sebuah penilaian tentang isi puisi. Bukan bermaksud sebuah pembelaan dan pembenaran ataupun penghakiman
Sebelum memahami puisi, ada baiknya memahami latar belakang pencipta. Sukmawati, dalam biodata wikipidea, menyebutkan dirinya sebagai seorang budayawan. Ia memiliki histories dengan pentolan FPI, Habib Rizik Sihab tentang Pancasila berada di pantat yang sampai sekarang belum selesai.
Apakah beliau Islam? Tidak ada informasi yang jelas dan tegas. Karena sejak tahun 1965 dalam keppres tentang penulisan kolom agama, kelompok kepercayaan dimasukkan kedalam 5 agama utama. Jika ia islam, mungkin hanya sebuah formalitas...
Tiga baris pertama, ia menyatakan buta terhadap Islam, kemudian menyatakan budaya sanggul yang mempertontonkan keindahan rambut seorang perempuan jauh lebih baik dari pada baris ketiga: cadar.
Penegasan "cadar dirimu". Tercatat kata mu sebagai kata pengganti orang kedua ia gunakan beberapa kali. Dalam penggunaan bahasa umum, ia bisa digunakan sebagai orang ke dua tunggal atau menunjuk kepada sebuah kelompok (dirimu, bangsamu, azanmu, ujudmu).
Ini penegasan bahwa ia menolak berada dalam satu konsep bersama "kelompok -mu". Beberapa kata lain, mempertegas posisinya, ia bukanlah seorang muslim. Ini terlihat dari kata pembuka, Aku tak tahu Syariat Islam, kemudian Lebih merdu dari alunan azanmu.
Bagi kelompok -mu (muslim) dua hal itu saling mengikat. Syariat islam merupakan cara hidup dalam agama islam baik habluminanas dan habluminallah. Kemudian kata azan, sebagai sebuah panggilan ibadah. Banyak riwayat dan hadis yang menjelaskan tentang azan ini.
Bahkan dalam beberapa kelompok masyarakat, azan juga dikumandangkan ketika sebuah bencana terjadi. Seperti saat tsunami aceh, kebakaran besar dan lainnya.
Ia membandingkan suara azan dengan "kidung". Kidung adalah tembang (nyanyian) yang dilakukan oleh kelompok kebudayaan tertentu sebagai sebuah pemujaan terhadap "penguasa alam". Kidung juga dikenal dalam ajaran Hindu. Ia berisi tembang-tembang doa dan pemujaan.
Dalam budaya jawa, kidung juga terdapat dalam aliran kepercayaan Kejawen. Bahkan dalam proses penyebaran agama Islam di tanah gemah ripah loh jinawi, Sunan Kalijaga mengajarkan Islam melalui unsur-unsur tradisi yang telah ada sebelumnya, termasuk menggunakan kidung (sumber).
Pada bait terakhir ia menutup dengan kata gerak tari. Saya mendapatkan asumsi ini merupakan perbandingan antara Shalat dan tarian pemujaan. Banyak ragam dan jenis tarian yang berfungsi sebagai sebuah persembahan dalam budaya Indonesia.
Beberapa contoh tari ritual yang berada di masyarakat Indonesia antara lain, tari Pendet dalam agama Hindu Bali, Jatilan yang berasal dari daerah sekitar Borobudur, dan Ngalage dari Jawa Barat. Masing-masing jenis tari berbeda fungsi dan tujuannya. (sumber).
Dari paparan diatas, sah saja jika Sukmawati menuliskan keyakinannya, namun menjadi tidak pantas dan tercela karena melakukan pembandingan terhadap agama yang ia tidak pahami.
Kemudian ke dalam, ini juga merupakan sebuah koreksi terhadap beberapa ulama, yang menyerang kelemahan keyakinan agama lain secara terbuka, bahkan disertai bahasa-bahasa kasar.
Wallahu 'Alam. Semua kembali kepada cara masing-masing bagaimana beragama. Semoga saja ini tidak menjadi sebuah komoditas politik...