Setetes darah telah merekah
Dari luka hamba sahaya
Merangkul tanah pusaka
darah deras di ujung panahnya
tanda bela tanah merdeka
Maret di tengah jalan
Subuh baru merengkuh
Mesiu mulai menderit
Menyibak lelap pemangsa gandum
terbungkuk terseok si tua renta
berjalan goyah menuju rumah saat senja
peluh menetes dihiasi senyum pada keriput wajahnya
dialah pahlawanku, dialah ayah
pahlawan bukan tentang perang dan senjata
tapi aku
katanya pahlawan
aku hanya mengabdi pada tuan tuan asing.