Wani, adalah putri penyair Wiji Thukul. Pada era 1997-1998, Wani masih kecil. Saat Fitri Nganthi Wani -- nama lengkapnya --- kecil itulah Wiji Thukul "petak-umpet" dengan tangan-tangan penguasa Orde Baru.
Wiji Thukul punya sendiri untuk bertahan sekaligus mempermaklumkan keluarganya, termasuk Wani. Wani, yang belakangan juga mengikuti jejak ayahnya menulis puisi, terakhir bertemu sang ayah pada usianya delapan tahun.
Setelah itu, Wiji Thukul hilang. Hingga kini. Namun sajak-sajaknya masih terus berbicara kepada zaman tentang rezim pada masa itu. Kepada Wani, Wiji Thukuk menulis sajak berikut ini:
WANI, BAPAKMU HARUS PERGI | Wani, bapakmu harus pergi/ kalau teman-temanmu tanya/ kenapa bapakmu dicari-cari polisi/ jawab saja:/ "karena bapakku orang berani". kalau nanti ibu didatangi polisi lagi/ menangislah sekuatmu/ biar tetangga kanan kiri datang/ dan mengira ada pencuri/ masuk rumah kita. *