ENTAH aneh atau tidak yang pasti saya justru senang ketika sadar tidak mengetahui dinamika perkembangan politik kekinian Aceh.
Begitulah tadi, disebuah meja kopi percakapan tentang perkembangan politik mengalir lancar. Setiap yang hadir saling bertukar informasi yang dimiliki, dan hanya saya yang diam, berusaha menyimak, tapi juga tidak paham apa yang dibicarakan.
Tapi, anehnya saya justru dilanda rasa senang. Senang karena merasa tidak tahu dan mengikuti perkembangan. Ternyata, mengetahui banyak hal bukan jaminan untuk senang. Adakalanya menjadi bodoh pada satu keadaan justru membuat senang.
Ini jelas perasaan aneh bagi seseorang achenis. Sudah menjadi pahaman umum orang Aceh itu sangat dekat dengan politik. Hampir semua lelaki Aceh dekat dengan informasi politik. Tanpa penguasaan terhadap politik, jelas akan menjadi terasing dalam keramaian.
Ya, perasaan terasing sempat saya rasakan, ketika tidak ada yang bisa saya ikutan nimbrung dalam cakap politik. Saya hanya bisa senyum-senyum saja, sesekali mengangguk, dan selebihnya hanya bisa menyerap informasi yang datang dari semua yang duduk dalam lingkaran meja kopi.
Sesekali angin kencang datang bersamaan rintik hujan. Tapi, saya justru tertarik menyimak suara badai kecil yang melewati hidung dan kuping. Ada rasa geli ketika angin membelai. Ada bisikan menyusup di hati: "kau tak paham yang mereka bicarakan?!" Nah, saya malah dihinggapi rasa senang, dan itulah yang membuat saya tersenyum.
Tapi, senyum saya malah di tafsir secara politik. "Abang enak, paham betul sudah apa yang sedari tadi kami bicarakan. Jadi, ya senyum-senyum dan pura-pura bodoh. "
Walah, kacau. Tidak tahu saja bisa ditafsir lebih paham politik. Memanglah, tafsir jauh lebih bahaya dari ketidaktahuan. Emanglah politik Aceh. Cakologinya dahsyat amat, mengalahkan pekatnya kopi hitam!