3 tahun 6 bulan yang lalu saya mengenal steemit, tepatnya 16 Februari 2017. Sepertinya itu bukan waktu yang singkat untuk dapat beradaptasi. Sosok yang memperkenalkan saya dengan steemit, yaitu saudara
dan
. Mereka berdua merupakan sosok yang rela berbagi ilmu dan tidak takut akan ilmunya dibagi dengan orang lain. Ada juga teman yang takut ketika berbagi ilmu.
Ketika saya pertama nimbrung disteemit, bukan seperti membalikkan telapak tangan. Ketika itu, pengguna steemit di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, tidak seperti pengguna steemit sekarang yang sudah membaur di masyarakat di setiap pelosok. Hal yang masih terbenak di pikiran saya, ketika kami aktif di steemit masa itu masih sembunyi-sembunyi. Artinya kami walaupun sering nongkrong di warung kopi, tetapi kami tidak membicarakan waktu berkumpul.
Kenapa bisa demikian, karena kalau kami membicarakan steemit di warung kopi, banyak yang mencemoohkan. Karena pernah suatu ketika saya dibilang gila dengan mencari dollar di dunia maya. Tetapi apa boleh buat, saya memang gila dengan dollar. Entahlah....!!!
Reward yang saya kumpulkan waktu itu, bisa dikatakan tidak ada harga. Mungkin kisaran Steem Dollar (SBD) dan Steem waktu dikonversi ke Rupiah hanya sekitar Rp. 12.000. Tidak seperti harga yang teman-teman rasakan seperti sekarang yang pernah menembus harga Steem Dollar akhir 2017 mencapai Rp. 300.000. Lumayan besar dan mungkin luar biasa harganya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Akan tetapi banyak yang mengeluh dengan harga akhir-akhir ini, yaitu Rp. 16.000. Padahal harga tersebut masih tergolong fantastis bila ketika memutar balik harga waktu awal steemit di awal tahun 2017. Maklum saja mereka berkata demikian, karena mereka mengenal steemit ketika melonjak drastis. Makanya, syukuri yang ada dengan apa yang didapatkan, bukan dengan mengeluh. Karena mengeluh bukan akhir dari segalanya.